indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Makam Keramat di Kawasan Tempat Jatuh Sukhoi

Makam Keramat di Kawasan Tempat Jatuh Sukhoi

Tebing curam sedalam 400 meter lebih yang merupakan lokasi jatuhnya Shukoi. TEMPO/Arihta Surbakti

TEMPO.CO, Bogor - Warga sekitar Gunung Salak mempercayai kawasan gunung yang menelan korban Sukhoi Superjet 100 itu merupakan kuburan para karuhun (leluhur) berilmu sakti. Para karuhun itu meninggal di sana ketika ilmunya mencapai puncak tertinggi. Karena itu, di sekeliling Gunung Salak banyak makam keramat. Makam ini sering menjadi tempat ziarah masyarakat, terutama pada bulan Mulud.

Ahmad Sungkawa alias Abah Uut, 56 tahun, seorang tokoh yang disegani warga sekitar, menceritakan, di Puncak Salak Satu atau Puncak Manik, terdapat makam keramat Raden Hasan Brajakusumah alias Mama Raden Hasan Basri atau Mbah Salak atau Eyang Manik. Mbah Salak dipercaya sebagai orang sakti dan berasal dari Kediri. Dia menetap di Puncak Manik hingga ajalnya.

Namun, sebelum bersemadi dan meninggal di Gunung Salak, Eyang Manik pernah menetap di Kaum, Ciawi. Saat ini keturunan Mbah Salak banyak tinggal di Bogor, di antaranya Endang Kosasih Memet Ahmad, mantan Ketua DPRD Kabupaten Bogor, dan Asep Firdaus, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Bogor.

"Saya keturunan kelima Eyang Manik," ujar Endang saat ditemui Tempo di rumahnya di Ciapus, Tamansari, Sabtu, 19 Mei 2012. Mbah Salak, kata dia, adik dari Mbah Dalem Salawat Empang yang merupakan keturunan Raden Arya Wirata Nudatar Cikundul.

Tak jauh dari makam Mbah Salak, letaknya agak di bawah Puncak Manik, ada satu makam lagi yang sudah dilapisi keramik. Warga percaya itu adalah petilasan Eyang Suryakencana. Di bagian selatan Gunung Salak, daerah Cidahu, terdapat pula makam keramat Eyang Santri. Kemudian di sekitar Curug Sereh ada pula makam Eyang Caru Ngangkang.

"Kalau di daerah Batu Julang, Tenjolaya, ada makam Eyang Baping Mala. Banyak makam keramat di Gunung Salak ini. Makanya, jangan sombong dan ngomong sembarangan, karena banyak penghuninya," kata Abah Uut.

ARIHTA SURBAKTI

Berita terkait:
Keluarga Pilot Sukhoi Tidak Datang ke Indonesia

DVI Kumpulkan 44 Sampel Sidik Jari Korban Sukhoi

Dalam Sejam, Rusia 3 Kali Ralat Rencana Konferensi Pers

Tukar Koin dan Rokok Rusia di Posko Sukhoi

Ransum Sukarelawan Sukhoi 8.400 Bungkus Per Hari

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X