Alasan Patung M Husni Thamrin Ramaikan Jakarta

Alasan Patung M Husni Thamrin Ramaikan Jakarta

Petugas Pemadam Kebakaran sedang membersihkan patung Pemuda Membangun di Bundaran Senayan, Jakarta, Minggu (26/2). Sebanyak 5 patung bersejarah di DKI Jakarta di bersihkan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) DKI Jakarta ke-93. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta - Kota Jakarta akan memiliki patung baru. Ahad lusa, 3 Juni 2012, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meresmikan patung pahlawan nasional asli Betawi, Muhammad Husni Thamrin.

Patung perunggu setinggi 7 meter ini akan dipasang tepat di median jalur hijau Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. "Peresmian patung tersebut merupakan bentuk penghargaan Pemprov DKI Jakarta terhadap jasa-jasa M.H. Thamrin terhadap bangsa Indonesia dan Kota Jakarta," kata Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakanan Provinsi DKI Jakarta, Catharina Suryowati, Jumat 1 Juni 2012.

Menurut Catharina, proses pembangunan patung M.H. Thamrin sebenarnya dimulai dari sayembara pada tahun 2000 yang dimenangi pematung asal Bali, Ketut Winata. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, menyatakan M.H. Thamrin sering disebut satu napas dengan Bung Karno. Hal itu terbukti ia hadir ketika Soekarno diadili, tatkala dijebloskan ke dalam penjara, juga saat Bung Karno dibuang ke Ende. Bahkan Belanda menjadikan Thamrin sebagai tahanan rumah setelah Soekarno berkunjung ke rumahnya.

Bedanya, bila Bung Karno berpidato soal makro, seperti falsafah dan ideologi negara, M.H. Thamrin lebih menukik kepada persoalan mikro seperti kampung yang becek tanpa penerangan dan masalah banjir.

M.H. Thamrin, kata Asvi, juga memprotes kenapa perumahan elite Menteng yang diprioritaskan pembangunannya sedangkan kampung kumuh diabaikan. Tokoh tersebut juga mempersoalkan harga kedelai, gula, beras, karet rakyat, kapuk, kopra, dan semua komoditas yang dihasilkan rakyat. Ia berbicara tentang pajak dan sewa tanah.

“Jadi terlihat betul beliau adalah tokoh nasional yang punya perhatian besar terhadap rakyat kebanyakan," ujarnya.

Sementara, sejarawan dari Universitas Indonesia, JJ Rizal, mengatakan Thamrin yang berdarah Betawi sejak kecil memang akrab dengan masalah-masalah yang dihadapi warga Ibu Kota. "Alhasil, ia tidak hanya sibuk mengurusi hal-hal makro untuk mencapai Indonesia merdeka, tapi juga hal-hal mikro seperti kampung (kampongvraagstuk) yang becek, tidak sehat, tanpa penerangan, dan banjir," ujar dia.

Thamrin juga menjadi juru bicara kepentingan rakyat kecil soal pajak dan sewa tanah bagi petani. Ia juga mengurus harga kedelai, gula, beras, karet, kapuk, kopra, dan semua komoditas yang dihasilkan oleh rakyat. “Sosok ini pantas diabadikan dan diperkenalkan secara lebih luas pada generasi muda sekarang,” ujarnya.

PINGIT ARIA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X