Soegija dan Kisah Kemanusiaan Uskup di Zaman Perang

Soegija dan Kisah Kemanusiaan Uskup di Zaman Perang

Tamu undangan menunggu dimulainya pemutaran film Soegija di bioskop 21 Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, Kamis (07/06/2012). Pemutaran film Soegija kali ini merupakan pemutaran khusus yang juga dihadiri gubernur provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengingat latar belakang cerita film, pengambilan film di Yogyakarta sebagai "Kota Republik" dan penggarapan yang dilakukan oleh seniman-seniman Yogyakarta. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang penyiar radio berdiri di ruang terbuka. Dia memegang mikrofon. Sekitar satu meter di sisi kanannya, tegak seorang pemuda dengan headphone pada telinganya dan membawa kotak berantena. “Sudah terdengar belum?” tanya si penyiar. "Durung (belum),” jawab sang pemuda. Setelah si penyiar mengubah posisi, suaranya baru tersiar ke radio milik warga.

Waktu itu kalender menunjukkan tanggal 6 November 1940: hari penahbisan uskup pribumi Indonesia pertama, Mgr. Albertus Soegijapranata, di Semarang, Jawa Tengah. Albertus Soegijapranata menjadi uskup ketika Indonesia masih dikepung penjajah Belanda, seperti yang diceritakan sutradara Garin Nugroho dalam film Soegija.

Hidup warga Indonesia ketika itu bergantung pada secarik kertas yang fungsinya mirip KTP. Kalau tidak membawa surat tanda diri kala bepergian, “dor!”, tembakan akan dilepaskan tentara Belanda ke kepala. Seperti yang akan dilakukan Robert (Wouter Zweers), tentara Belanda, waktu merazia warga lokal. Untung saja fotografer perang Hendrick (Wouter Braaf) berhasil menghentikan keinginan sahabatnya itu.

Pada tahun 1943, Belanda dipukul mundur oleh Jepang. Warga Indonesia yang kala itu menyambut hangat kedatangan Saudara Tua, kecele. Ternyata Jepang tak kalah bengisnya dari penjajah Negeri Kincir Angin. Bahkan mereka menculik para perempuan. Termasuk seorang ibu muda (Olga Lydia) yang dipisahkan dari anaknya, Ling Ling (Andrea Reva).

Selama masa penjajahan, Uskup Soegija ikut berperang dengan memberi semangat serta rasa aman. Tidak untuk umat Katolik saja, tapi juga tentara, korban perang, dan para perawat. Dia juga melakukan usaha diplomasi melawan penjajah melalui surat ke Vatikan, Roma. Memindahkan keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta bersamaan dengan migrasinya ibu kota Indonesia dari Jakarta ke daerah istimewa itu. Dan berkatnya, Rumah Sakit St. Carolus dapat terus merawat warga serta tentara yang terluka.

Garin memang tak membuat film murni biografi yang menyuruh kamera terus-menerus menyorot sosok Soegija (Nirwan Dewanto). Dia membuat film Soegija menjadi ringan dengan cara bercerita dari orang-orang di sekeliling sang Uskup. Dengan begitu, penonton bisa mengerti sosok Soegija dari pengaruhnya terhadap lingkungan di sekitarnya. Dan bagi orang awam yang tak mengerti siapa Soegija, film ini bisa menjadi cerita perang kemerdekaan Indonesia. Jadi bukan sekadar film sejarah, tapi juga sebuah hiburan.

Soegija tak seperti film Garin terdahulu yang cuma dimengerti segelintir orang atau hanya pantas untuk diikutkan festival. Seperti Daun di Atas Bantal, Puisi Tak Terkuburkan, Rembulan di Ujung Dahan, dan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. “Soegija memang film pertobatan saya,” kata Garin. “Film ini bisa ditonton siapa saja di atas usia kelas lima sekolah dasar.”

Secara naskah, bukan Garin namanya kalau tidak membuat jalan cerita yang menarik. Meski titik cerita ada pada Uskup Soegija, sosok yang seharusnya serius, Garin bisa membuat film ini sarat lelucon. Apalagi Garin menggunakan Butet Kartaredjasa sebagai tangan kanan Soegija. Tambah menarik lagi, Garin tidak menggunakan “Londo Depok” sebagai pemeran tentara. Prajurit Belanda dan Jepang dia datangkan langsung dari negeri aslinya. Jadi si pemain benar-benar fasih melafalkan dialog film yang menggunakan enam bahasa itu.

Untuk musik, Djaduk Ferianto tidak hanya menyuguhkan lagu sebagai latar adegan. Dia juga memberikan sejumlah babak yang menunjukkan kelompok penyanyi, grup musik, pemetik ukulele, serta fotografer Hendrick yang menyanyikan lagu-lagu Belanda.

Yang unik, ada satu adegan serupa dengan babak di film Titanic. Yakni waktu grup musik memainkan lagu di dekat pematang sawah untuk menyemangati para pengungsi. Tiba-tiba, tak jauh dari mereka, bom-bom yang dijatuhkan pesawat Jepang meledak. Namun semua personel bergeming, tetap memainkan alat musik mereka. Heroik. Seperti waktu Titanic akan tenggelam, grup orkestra tetap bermain musik.

Soegija, film yang menarik ditonton. Tidak perlu mengerti sastra atau sejarah untuk menyaksikannya. Cukup suka menonton film, siapa pun bisa mengikuti jalan cerita Soegija. Dan film ini sudah bisa disaksikan di bioskop sejak 7 Juni 2012.

CORNILA DESYANA





Soegija
Sutradara: Garin Nugroho
Produser: Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanto S.J., Tri Giovanni
Penulis: Armantono, Garin Nugroho
Pemeran: Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Zweers, Wouter Braaf, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Margono, Butet Kartaredjasa, Hengky Solaiman, Andrea Reva, Rukman Rosadi, Eko Balung, Andriano Fidelis
Musik: Djaduk Ferianto
Sinematografi: Garin Nugroho
Genre: Drama

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X