Dua orang model dari Solo fashion carnival berkeliling saat pameran Pesona Wisata Nusantara 2009 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (4/6). Tempo/Dwianto Wibowo

Dua orang model dari Solo fashion carnival berkeliling saat pameran Pesona Wisata Nusantara 2009 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (4/6). Tempo/Dwianto Wibowo

Solo Komersialkan Atraksi Wisata

TEMPO.CO, Surakarta– Pemerintah Surakarta mulai berpikir mengkomersialkan beragam atraksi wisata dan budaya yang selama ini dapat dinikmati secara gratis. Sebagai langkah awal dengan menerapkan tiket masuk bagi masyarakat yang ingin menonton pertunjukan Solo Batik Carnival ke-5 di Stadion Sriwedari pada 30 Juni 2012. Tiket dijual antara Rp 25-200 ribu dan disediakan 6.800 tiket.

Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Surakarta Widdi Srihanto mengatakan komersialisasi sebagai upaya untuk melanggengkan atraksi wisata atau budaya yang selama ini digagas pemerintah. “Karena tidak bisa terus menerus mengandalkan anggaran pemerintah,” katanya kepada Tempo, Jumat, 8 Juni 2012.

Menurutnya anggaran pemerintah sangat terbatas untuk menyelenggarakan beragam atraksi budaya dan wisata macam Solo Batik Carnival, Mangkunegaran Performing Art, Solo International Performing Art, dan Solo International Ethnic Music. “Karena anggaran terbatas, acaranya bisa dibilang kurang maksimal,” ujarnya. Bahkan ketika tidak ada anggaran, bisa saja acara tersebut terhenti.

Sementara jika menggandeng swasta untuk penyelenggaraan, dia mengatakan atraksi tersebut bisa dikemas lebih baik meskipun ada kompensasi harus membayar. Kemudian jika memang menguntungkan, tentu swasta akan tertarik untuk terus menyelenggarakan.

Meskipun mendorong komersialisasi, dia menegaskan tetap ada peran pemerintah untuk mengatur acara. Misalnya pertunjukan tersebut tetap harus bisa dinikmati masyarakat umum secara gratis. “Seperti Solo Batik Carnival, yang tidak membayar tetap bisa menyaksikan saat pawai di jalan,” ucapnya.

Selain itu, hak cipta penyelenggaraan tetap di tangan pemerintah sebagai pencetus dan pelaksana awal kegiatan. “Swasta tidak bisa serta-merta mengklaim itu milik mereka,” dia menegaskan.

Terpisah, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Surakarta Hidayatullah Al Banjari mendukung langkah di atas. Sebab pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator. “Mestinya memang swasta yang bikin acara-acara seperti itu. Tapi waktu itu karena tidak ada yang mau, maka pemerintah yang buat,” katanya.

Setelah sekarang berjalan cukup lama dan dinilai menjual, sah-sah saja jika kemudian swasta dilibatkan untuk meningkatkan kualitasnya dan menjamin keberlangsungan acara. Yang terpenting, tetap ada ruang untuk masyarakat umum untuk bisa menyaksikan secara gratis.

Ketika dijual pun, tidak hanya swasta yang mendapat untung. Sebagai sebuah kota, Surakarta akan ramai dikunjungi dan berefek pada perekonomian kota secara umum.

UKKY PRIMARTANTYO

Berita lain:
Gebyar Piala Eropa 2012

Boateng Bermalam Bersama Bintang Playboy
Jersey Peserta Euro 2012 Mengandung Bahan Beracun
Kuping Dahlan Iskan Ternyata Pink
Beginilah KPK Menangkap Tangan Tommy Terima Suap

PSSI, KPSI, IPL dan ISL, Berdamai

PSSI dan KPSI Damai, Ini Komentar Djohar