indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Rusuh Berdarah Muslim dan Buddha Ancam Myanmar

Rusuh Berdarah Muslim dan Buddha Ancam Myanmar

Sejumlah warga Rohingya terlihat di antara rumah yang terbakar saat terjadinya bentrokan antara kaum Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya di Sittwe, Myanmar, Minggu (10/6). REUTERS/Staff

TEMPO.CO, Sittwe - Ketegangan masih merayap di Myanmar barat laut, Senin, 11 Juni, setelah kekerasan sektarian berkecamuk di kota terbesar pada akhir pekan. Reuters menyaksikan kelompok-kelompok yang berseteru dari muslim dan Buddha merusak puluhan rumah, sementarapolisi memberikan tembakan ke udara buat membubarkan kerumunan.

Menurut beberapa pejabat Myanmar, sedikitnya tujuh orang tewas dan banyak yang terluka. Bentrokan meletup pada Jumat di kota negara bagian Rakhine, Maungdaw, telah menjalar ke Ibu Kota Sittwe dan desa-desa terdekat. Hal itu mendorong pemerintah mengumumkan keadaan darurat pada Ahad malam dan menerapkan jam malam.

"Kami sudah memerintahkan tentara melindungi bandara dan desa-desa Rakhine yang diserang di Sittwe," ujar Zaw Htay, Direktur Kantor Kepresidenan, kepada Reuters, Senin, 11 Juni 2012. "Penerapan untuk jam malam di kota-kota lain juga tengah diatur."

Pergolakan tampaknya melukai citra kesatuan etnik dan stabilitas yang membantu membujuk Amerika Serikat dan Eropa untuk menghentikan sanksi-sanksi ekonomi tahun ini, di saat jam malam dapat mengancam investasi asing dan pariwisata.

Hal itu juga bisa memaksa Presiden Thein Sein, seorang mantan jenderal yang reformis, berhadapan dengan isu bahwa kelompok-kelompok HAM mengkritik selama bertahun-tahun: eksodusnya ribuan muslim Rohingya yang tak punya negara yang tinggal di sepanjang perbatasan dengan Bangladesh dengan kondisi mengenaskan.

Ahad lalu, Inggris mendesak pemerintah di negara bagian Rakhine membuka dialog untuk meredakan kekerasan sektarian.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Browne menyebutkan pihaknya sangat cemas oleh kekerasan dan meminta semua pihak menahan diri. Menteri Browne berkukuh bahwa otoritas dan para pemimpin komunitas harus membuka pembicaraan untuk "mengakhiri kekerasan dan melindungi seluruh anggota masyarakat lokal".

Dalam pidato nasional, Presiden Thein Sein memperingatkan serangan-serangan mematikan dikobarkan oleh "rasa kebencian dan balas dendam berbasis agama dan kebangsaan" di Rakhine yang bisa menular ke bagian-bagian lain negeri.

REUTERS | ASIAONE | DWI ARJANTO

Berita Terkait
Calon Penari Ini Jatuh dari Lantai 6 dan Selamat

Capres Kenya Tewas Kecelakaan Heli

Mubarak Sempat Koma di Penjara

Hari Ini, Tujuh WNI Dipulangkan dari Suriah

Tujuh Penjaga Perdamaian Tewas di Pantai Gading

Benigno Aquino Melawat ke Amerika

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
semoga tdk berkelanjutan..
Wajib Baca!
X