Rupiah Melemah, Tertekan Kebutuhan Impor dan Utang  

Rupiah Melemah, Tertekan Kebutuhan Impor dan Utang  

TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta - Kurs rupiah mengalami tekanan depresiasi terkait dengan faktor eksternal. Pada bulan lalu rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,23 persen ke Rp 9.400 per dolar AS (month to month).

"Tekanan ini disebabkan oleh permintaan valuta asing yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan impor," ujar Kepala Divisi Humas Bank Indonesia, Diffi A. Johansyah, dalam konferensi pers di kantornya, Selasa, 12 Juni 2012.

Impor bahan bakar minyak, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi pendapatan pihak asing jadi penyebab tingginya permintaan valuta asing. "Ini menyebabkan tekanan terhadap rupiah," ujarnya.

Permintaan ini terjadi di tengah meningkatnya valuta asing terkait dengan portofolio rebalancing oleh pelaku non-residen. "Ini akibat adanya sentimen global sehubungan dengan penyelesaian krisis Eropa," ucapnya.

Untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing, BI terus mengambil langkah untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar. "Perlu penguatan operasi moneter lewat pengembangan instrumen moneter valas," ujarnya.

Contoh operasi moneter tersebut adalah penerbitan term deposit valuta asing dan penguatan koordinasi dengan pemerintah untuk mitigasi dampak negatif risiko ekonomi global makin memburuk.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengungkapkan kondisi ekonomi dan politik global membuat pelaku pasar berhati-hati. Contohnya menjelang pemilu Yunani, pelaku pasar cemas jika Negeri Para Dewa itu keluar dari zona Euro. "Akan berdampak negatif dan menimbulkan efek domino," ujarnya.

Terus berlanjutnya kecemasan di Eropa membuat para investor akan tetap menempatkan dananya dalam bentuk dolar AS. Hal tersebut dianggap paling aman saat ini. Ini berarti dolar AS akan cenderung menguat karena tetap diburu oleh para investor yang keluar dari bursa saham ataupun komoditas.

Pekan ini, menurutnya, pelaku pasar akan mencermati keputusan Dewan Gubernur BI yang akan memberlakukan deposito valas. Meski apresiasi atas mata uang lokal tetap dibayangi kondisi ketidakpastian di Eropa, rencana ini diharapkan bisa memberi sentimen positif pada rupiah.

M. ANDI PERDANA

Berita lain:
Liem Sioe Liong Lebih Suka Naik Pesawat Komersiil

Kakek Megawati Buka Jalan Bisnis Om Liem

Whistle Blower Pajak Dapat Promosi Karier

Di Peti, Wajah Om Liem Tenang Seperti Tidur

Fuad Bawazier Kenang Om Liem Kala ke Bangkalan


 




Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X