SBY Klaim Demokrat Bukan Partai Terkorup  

SBY Klaim Demokrat Bukan Partai Terkorup  

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan dalam acara Silaturahmi Para Tokoh Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat (FKPD-PD) yang diadakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu 13 Juni 2012. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Grafis Terkait

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan pemberitaan media terutama televisi telah menggerus popularitas Partai Demokrat. Ia menyatakan, media lebih gencar memberitakan kader-kader Demokrat yang terlibat korupsi ketimbang kader dari partai lain.

“Saya berani mengatakan ini tidak adil dan tidak fair,” kata Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembukaan acara Silaturahmi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu, 13 Juni 2012.

Menurut SBY, kader partai lain yang korupsi lebih banyak ketimbang kader Partai Demokrat yang terlibat. “Padahal hanya sebagian kecil dari Partai Demokrat,” ujarnya. “Partai lain lebih banyak.”

Pemberitaan media, kata Yudhoyono, memunculkan pandangan bahwa Demokrat adalah partai korup sedangkan partai lain bersih. Hal ini menyebabkan popularitas Demokrat menurun signifikan, terutama setelah selama satu tahun terakhir media memberitakan kader Demokrat yang korupsi.

Berdasarkan data, SBY melanjutkan, Demokrat bukan partai yang paling banyak terlibat dalam kasus korupsi. Dalam kurun 2004-2012, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat provinsi, Demokrat menempati posisi kelima jumlah kadernya yang terlibat korupsi, yakni 3,9 persen dari total kasus.

Sedangkan untuk DPRD tingkat kabupaten atau kota, SBY memaparkan, kader Demokrat yang terlibat kasus korupsi hanya berjumlah 11,5 persen dari total kasus atau menempati urutan ketiga. Di atasnya, ada dua partai yang masing masing memiliki persentase 27 persen dan 14 persen.

“Untuk tingkat Kementerian, Partai Demokrat menempati urutan ketiga dengan jumlah oknum 8,6 persen,” kata SBY. Sedangkan dua partai lain menempati posisi atas dengan jumlah persentase masing-masing 33,7 persen dan 16,4 persen dari total kasus.

“Adilkah dengan angka ini Partai Demokrat dicap sebagai partai korup dan yang lain adalah partai bersih?” kata dia.

Yudhoyono juga mengatakan, sejumlah kader daerah kerap mengirimkan pesan singkat kepadanya yang berbunyi pertanyaan mengapa proses hukum terhadap kader Partai Demokrat yang terlibat korupsi sangat lambat. Proses yang tidak segera ini menyebabkan proses pemberitaan semakin panjang dan popularitas partai semakin buruk. 

Sebagai tanggapan, ia meminta para kader daerah untuk bersabar dan tidak berburuk sangka pada proses hukum yang berjalan. Ia juga meminta para kader untuk mengikuti proses hukum secara seksama dan memberikan penilaian. “Apakah proses hukumnya sama cepat dengan kasus lain yang tidak melibatkan kader Partai Demokrat?” kata SBY.

FRANSISCO ROSARIANS

Komentar (12)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
korupsi ya korupsi pak,.. bkn diliat dr segi kuantitas brp byknya kader melakukan korupsi entah itu urutan terakhir sekalipun. menurut saya ya wajar kalau saat ini par*SENSOR* demokrat yg disorot, krn sbg pemenang pemilu dgn janji2 utk memberantas korupsi shg rakyat lbh melihat sejauh mana keseriusan par*SENSOR* demokrat utk menindaklanjuti janji2nya saat kampanye dulu sbg par*SENSOR* yg bersih bebas dr korupsi.
0
0
0mganya para k0mentat0r pada nglantur. . .kaya kalian2 tu pnter. . .ngina SBY. . Sgala. .
0
0
demokrat tidak mempunyai media,, sehingga sangat mudah di turunkan popularitasnya mskipun pak sby berusha matian2 memperbaiki citranya hanya akn mnjadi cibiran sdngkn parpol yg mempunyai media g perlu susah pyah menutupi n memperbaiki citra
0
1
sby parrraaaahh. . .presiden egk cerdas, cengeng _ manja, senenge mengeluh n curhat, mbiyen pie to kq podho milih pak beye??? Aq lega 2x putaran egk milih sampeyan pak.
0
0
Apakah dapat dihitung hitung jumlah perbuatan tak baik itu bagaikan menghitung bebek, kalau yg namanya korup siapapun tetap biadab.bukan jumlah atau banyaknya.
Selanjutnya
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X