Trauma Dijarah, Alasan Om Liem Pindah Singapura

Trauma Dijarah, Alasan Om Liem Pindah Singapura

Pengusaha Liem Sioe Liong atau Sudono Salim yang meninggal di Singapura, Minggu (10/6) rencananya akan dimakamkan di Chua Chu Kang Cemetary Singapura, Minggu (17/6). Kapanlagi.com

TEMPO.CO , SINGAPURA :-Taipan Liem Sioe Liong alias Sudono Salim mengalami trauma berat di tahun 1998. Krisis moneter dan politik yang berujung lengsernya Soeharto pada Mei tahun itu memukul perasaan Liem. Selain perusahaannya terpuruk saat itu, rumahnya di Jalan Gunung Sahari, Jakarta dijarah massa. Pun juga kediaman keluarga Liem di Medan.

Dalam buku Soeharto The Life and Legacy of Indonesia's Second President karya Renowati Abdulgani-Knapp, disebutkan bagaimana massa pro reformasi tak hanya menjarah rumah Oom Liem, tapi juga nyaris membakar rumah itu. Liem, dianggap sebagai orang yang memegang kendali atas keberhasilan ekonomi negeri itu dan hubungannya dengan keluarga besar Presiden Soeharto. "Hubungan erat keluarga Soeharto dengan konglomerat mempengaruhi pandangan masyarakat tentang keberpihakannya," tulis buku yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan Kata Hasta Pustaka 2007 ini.

Pengusaha Sofyan Wanandi menuturkan, kerusuhan Mei 1998 tak hanya membuat Om Liem trauma tinggal di Indonesia. Keluarga besar Liem, juga memutuskan pindah ke Singapura. Sesekali saja datang ke tanah air, namun ia tak pernah tinggal lama.

Tak hanya pindah domisili, Liem Sioe Liong bahkan memilih mundur dari urusan bisnis yang telah dibangunnya. Di Singapura, sebelum mundur, seperti ditulis Majalah Tempo edisi 10 Januari 2000, Liem mendirikan Waringin Holding, kongsi yang mengekspor hasil bumi ke Eropa dan beranak-cucu 485 perusahaan.Forbes bahkan menaksir nilai kekayaan Om Liem mencapai US$ 7 miliar dan memilihnya menjadi orang terkaya keenam dunia.

Menurut menantunya, Fransiscus Welirang, Jakarta dan rumah di Gunung Sahari memiliki kisah traumatik bagi keluarga Om Liem. Meski begitu, sesekali Om Liem merindukan Jakarta. "Memang ada masa seperti itu. Beberapa kali sempat membicarakannya dan menengok rumah di Gunung Sahari," kata Franky, bercerita. "Tapi, akhir-akhir ini saya tidak pernah mendengar lagi."

Beberapa rekannya, termasuk Sudwikatmono (almarhum), Liem berkali-kali menyampaikan keinginannya agar bisa kembali ke Jakarta. "Dia kadang menangis kalau ingat rumah di Gunung Sahari. Ia pernah bilang pada saya kalau dia ingin mati di sana dan dikubur di Indonesia," kata Sudwikatmono suatu hari, dalam sebuah wawancara dengan Tempo.

Tapi, rupanya keluarga Liem punya pertimbangan tersendiri hingga memutuskan untuk mengubur taipan pendiri Grup Salim itu di Singapura. "Pertimbangan kami praktis saja. Karena Ibu di sini," ujar Franky.

WDA | Y. TOMI ARYANTO (Singapura)

Berita terkait
Peti Mati Liem Sioe Liong Rp 67,5 Juta
Keluarga Pastikan Liem Sioe Liong Tak Dikremasi
Megawati Melayat Liem Sioe Liong
Kakek Megawati Buka Jalan Bisnis Om Liem
Sejumlah Tokoh Singapura Layat Om Liem
Di Peti, Wajah Om Liem Tenang Seperti Tidur
Fuad Bawazier Kenang Om Liem Kala ke Bangkalan
Mendiang Om Liem Kenakan Jas Hitam dan Dasi Oranye
Jenazah Sudono Salim Tiba di Mount Vernon

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
kasihan trauma penjarahan harta bendanya, lalu sewaktu menjarah harta benda orang lain apa memikirkan trauma mereka? ... dharma dan karma adalah berpasangan

Musik/Film

Wajib Baca!
X