Gender di Mata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi
Nafsiah Mboi. dok. TEMPO/Mazmur A. Sembiring
TEMPO.CO , Jakarta:Kesetaraan gender termasuk isu hangat dibicarakan dunia. Nafsiah Mboi menganggap masyarakat masih banyak menyalahartikan gender sebagai perempuan. Termasuk kesetaraan gender yang disamakan dengan aliran feminis.
Sebagai Direktur Kesehatan Gender dan Perempuan tentu saja ia merasa wajib meluruskan masalah ini. Dalam pengertian wanita kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940, gender itu mengacu pada perilaku atau norma yang dituntut dari pria dan perempuan yang sebenarnya ditentukan oleh lingkungannya. Jadi kalau lingkungannya berbeda, maka masalah gendernya bisa berbeda. Jadi bukan semata masalah biologis saja, melainkan lebih ke arah perilaku.
Dokter spesialis anak keluaran FKUI ini kemudian mengambarkan kalau perempuan tak harus selalu hamil. "Kewajiban saya untuk mengatakan, Hey look, wanita itu bukan hanya hamil thok! Hamil, melahirkan, menyusui itu penting. Tapi jangan dilupakan life cycle-nya," katanya beberapa waktu lalu.
Implikasi dari pemahaman ini luas. Bila kepada wanita hanya ditekankan masalah biologis saja, kehidupan wanita sebagai manusia yang utuh, yang perlu berkarir dan mengembangkan potensi-potensi lainnya akan terabaikan. Sebaliknya dengan pemahaman gender, sebagaimana lelaki, wanita pun bisa mengembangkan diri secara optimal.
Salah satu contoh masalah gender ia terlihat dari perbedaan jumlah kebutaan yang dilaporkan para ahli dari seluruh dunia beberapa waktu lalu. Di situ ibu tiga anak ini melihat, katarak terjadi pada pria dan wanita. Pada perempuan jumlahnya lebih banyak dibanding pria.
Menurut pemilik nama lengkap Andi Nafsiah Walinono ini, perbedaan jumlah itu biasa terjadi karena pelayanan pada pria untuk mendapat tindakan operasi lebih banyak. Bila kesempatan untuk operasi katarak sama, maka angka kebutaan pada wanita bisa diturunkan. "Kita lalu mengadakan penelitian, kenapa terjadi perbedaan. Harusnya nggak ada masalah. Mereka harusnya sama-sama dapat pelayanan, supaya kebutaan pada keduanya bisa dicegah. Inilah masalah gender,"katanya.
Nafsiah Boi didaulat Presiden Republik Indonesia sebagai Menteri Kesehatan. Ia akan melanjutkan masa kerja almarhum Menteri Endang Rahayu Sedianingsih yang meninggal 2 Mei 2012. Menurut Yudhoyono, ia adalah orang yang tepat untuk menempati posisi itu. “Saya melihat pengalamannya dulu dan komitmen kerja nyata maka saya anggap tepat menempati posisi itu,” katanya di Istana Bogor, Rabu 13 Juni 2012.
MITRA TARIGAN | EVAN | PDAT
Berita Terkait
Akhir Pelarian Neneng
Wa Ode : Yang Pasti Semua Akan Saya Ungkap
SBY Dengarkan Risau Kader Demokrat
Begini Sherny Kojongian Terlibat Kasus BLBI
Cegah Komisaris PT Bhakti Terkait Kasus Suap Pajak
SBY Minta Perkemahan Pramuka di Papua Dievaluasi
Marzuki: Kumpulkan DPD, SBY Hanya Minta Saran
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Abah Landoeng, Kakek Relawan Anti-Korupsi
- Inilah Skuad Belanda untuk Hadapi Indonesia
- Kak Seto: Darin Mumtazah Harus Diperlakukan Khusus
- Kasus Blok A, Ahok Tak Gentar Hadapi Djan Faridz
- Pembunuh Tentara Dituntut 14 Tahun 6 Bulan Penjara
- Dua Kakek Bersaing Menjadi Pendaki Everest Tertua
- Gita Wirjawan Rajin ke Daerah, Bekal Nyapres?














