Torcida, Jantung Kekuatan Kroasia

Torcida, Jantung Kekuatan Kroasia

Timnas Kroasia. AP/Darko Bandic

TEMPO.CO , Jakarta-Mereka seperti tak kenal lelah. Di Stadion Municipal, Poznan, Polandia, orang-orang yang beratribut warna dominan kotak-kotak merah-putih dengan setrip biru itu menari, bernyanyi, dan berteriak sejak sebelum kick-off sampai pertandingan usai. Mereka suporter Kroasia yang hari itu jumlahnya hanya sepertiga dari pendukung tim lawan, Republik Irlandia.

“Suporter kami mungkin hanya 7.000-an orang, tak banyak, tapi teriakan mereka cukup keras untuk membantu kami,” kata pelatih Slaven Bilic setelah membawa Kroasia menundukkan Irlandia 3-1. “Bila kami keluar dan melihat suporter kami, itu sudah cukup,” bek Vedran Corluka menambahkan.

Mereka orang-orang dari negeri kecil di Semenanjung Balkan, Eropa tengah, yang baru eksis sebagai negara pada 1991 selepas pecahnya Yugoslavia. Jumlah penduduk Kroasia cuma sekitar 4,4 juta jiwa, bahkan kurang dari separuh penduduk DKI Jakarta.

Di sana sepak bola bak oksigen. “Saat Anda lahir, hal pertama yang diberikan ayah Anda adalah sepak bola,” ucap Corluka, pemain yang pernah lama di Liga Inggris dan sekarang bermain di Liga Jerman. “Itu ada dalam darah kami. Anda selalu menemui orang-orang bermain sepak bola di jalanan Kroasia.”

Dan prestasi di lapangan hijau dihargai lebih dari sekadar sukses dari dunia olahraga. Saat menyambut kepulangan para pemain Kroasia yang memberikan gelar juara ketiga Piala Dunia 1998, Presiden Franjo Tudman berkata, “Kemenangan sepak bola membentuk identitas nasional, sama seperti peperangan.”

Sepak bola bukan sekadar tentang pemain. Tapi juga tentang orang-orang yang membuat pahlawan di lapangan bergerak lebih bersemangat, tentang para suporter.

Dari Kroasia sejarah suporter modern Eropa berasal. Namanya torcida yang bisa diartikan kelompok suporter. Di kemudian hari, istilah ini kalah populer dibanding ultras dan tifosi (keduanya istilah Italia), barrabravas (Argentina), atau firm (Britania) yang memiliki pengertian sejenis. Bila berperilaku negatif, suporter itu disebut hooligan.

Klub-klub dan tim nasional negara-negara Eropa memiliki suporter fanatik dengan riwayat panjang, seumuran dengan sejarah sepak bola itu sendiri. Begitu pula dengan kelompok suporter di Kroasia yang telah ada sejak akhir Abad XIX.

Hanya, Eropa mulai mengenal organisasi suporter dengan struktur yang jelas dan berpenampilan menarik di lapangan-–bernyanyi, menari dengan koreografi, dan memiliki komandan lapangan--setelah suporter Hajduk Split, mantan anggota klub Yugoslavia yang kini berada di wilayah Kroasia, mendirikan torcida Split pada awal 1950-an.

Mereka mengadopsi kultur suporter Brasil. Beberapa pemimpin suporter Split terkesan akan kebersamaan dan keindahan gerak suporter tim Samba saat berlangsungnya Piala Dunia 1950 di Brasil. Mereka lantas melakukan hal yang sama sepulang dari turnamen itu. Di Yugoslavia, kultur itu berkembang. Para suporter negara lain kemudian terinspirasi.

Tentu saja, ber-Mexican wave, bernyanyi bareng, dan berteriak bersama tak menghabiskan darah panas orang-orang Balkan. Vandalisme di lapangan masih dilakukan. Kasus berat pertama terjadi pada Oktober 1961. Seorang wasit dihajar habis-habisan di Stadion Poljud, kandang Hajduk Split, karena menganulir sebuah gol. Lima tahun kemudian, terjadi tawuran besar-besaran di Rijeka antara torcida Split dan rival mereka.

Torcida juga melahirkan efek buruk. Kelompok suporter yang terorganisasi memudahkan para politikus memanfaatkan mereka. Di Serbia, Presiden Slobodan Milosevic membentuk pasukan paramiliter yang berasal dari suporter garis keras Red Stars Belgrade, bernama delije, saat pecahnya perang saudara di antara negara-negara bekas Yugoslavia.

Torcida Kroasia juga memiliki sejarah yang sejenis. Di sebuah dinding utara Stadion Poljud, terdapat 27 nama anggota torcida Split yang meninggal saat berperang bagi kemerdekaan Kroasia.

Di Polandia-Ukraina, Vatreni (pasukan berjaket, julukan kesebelasan Kroasia) kembali berjuang dengan torcida yang selalu bersemangat di kursi penonton. Kapten Darijo Srna memimpin rekan-rekannya untuk memberikan yang terbaik.

Begitu pula dengan Slaven Bilic, pelatih yang dulu mantan bek saat Piala Dunia 1998. “Sukar memang untuk mengulang prestasi 1998, tapi kami memiliki pemain yang lebih baik sekarang,” kata pelatih berusia 43 tahun, penyandang gelar sarjana hukum, dan gitaris kelompok rock Rawbau, ini. “Kami akan mencoba mendikte irama pertandingan, kami sudah melakukannya di banyak pertandingan.”

Malam nanti, giliran Italia, tim pengoleksi empat kali trofi Piala Dunia dan sekali Piala Eropa, yang akan dicoba didikte. Lebih dari sekadar cheerleader pemberi semangat, torcida bisa menjadi simbol rakyat dan tanah air bagi para pemain Kroasia, tempat mereka mendarmabaktikan keringat mereka.

GUARDIAN | NYTIMES | ANDY MARHAENDRA

Terpopuler:
Jerman vs Belanda: Pertempuran Penghabisan

Rekor Baru, Ceko Ungguli Yunani 2-0 dalam 6 Menit

Nasri Mulai Mengecoh Kawan Seklub

Garuda Kalahkan Malaysia Airlines dan Air France

Om Liem Pernah Ingin Kembali dan Dikubur di Jakarta

Fauzi Bowo: Iklan Cineplex Bukan Kampanye

10 Kota Paling Dibenci, Jakarta Nomor Tujuh

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X