Letusan Gunung Berapi Bisa Melubangi Ozon
Awan panas meluncur kembali dari puncak Gunung Merapi ke arah Kali Gendol, Cangkringan, Sleman, Selasa (1/11). TEMPO/Arif Wibowo
TEMPO.CO , Kiel - Unsur bromin dan klorin yang dimuntahkan letusan besar gunung berapi membuat lapisan ozon di atmosfer semakin tipis. Ancaman gunung api ini terungkap lewat penelitian terbaru di bidang vulkanologi.
Dalam presentasinya pada konferensi ilmiah di Islandia 12 Juni lalu, para peneliti menyatakan letusan besar di wilayah vulkanik aktif di Amerika Tengah melepaskan gas dalam jumlah yang cukup untuk menipiskan lapisan ozon secara signifikan selama beberapa tahun.
Para ilmuwan menemukan bahwa letusan gunung berapi bisa meningkatkan unsur kimia bromin dan klorin di stratosfer dua hingga tiga kali lipat. Kesimpulan itu diambil setelah para peneliti menghitung konsentrasi kedua unsur kimia yang dimuntahkan 14 gunung berapi di Nikaragua selama 70 ribu terakhir.
Agar stabil, bromin dan klorin membutuhkan elektron yang diambil dari ozon yang jumlahnya melimpah di atmosfer. "Bromin dan klorin adalah gas yang gampang bereaksi terutama dengan ozon. Jika mencapai stratosfer, mereka berpotensi tinggi menggerus lapisan ozon," jelas Kirstin Kruger, seorang ahli meteorologi dari GEOMAR di Kiel, Jerman. Stratosfer adalah lapisan atas atmosfer tempat gas ozon melindungi Bumi dari radiasi ultraviolet sinar matahari.
Untuk memperkirakan jumlah kedua unsur kimia yang dilepaskan gunung berapi, para peneliti mengukur tingkat halogen di lapisan batuan yang diendapkan sebelum dan sesudah letusan bersejarah. Halogen adalah kelompok elemen yang sangat reaktif terhadap bromin dan klorin.
Hasil pengukuran menunjukkan letusan gunung berapi memuntahkan bromin dan klorin dua sampai tiga kali dari jumlah yang diproduksi oleh aktivitas manusia. Semua unsur bromin dan klorin itu dimuntahkan ke stratosfer.
"Penipisan ozon terjadi secara substansial sejak kami ketahui bromin dan klorin dilepaskan bersama-sama. Dan ini baru dari satu letusan tunggal," kata Kruger.
Penelitian sebelumnya telah memperkirakan bahwa letusan gunung berapi yang besar dan eksplosif (jenis letusan yang memuntahkan abu berbentuk awan jamur hingga ketinggian bermil-mil) dapat mengeluarkan halogen hingga 25 persen ke stratosfer.
Lantaran efeknya di stratosfer, gas-gas vulkanik hasil letusan gunung berapi dapat disebarkan ke daerah lain di seluruh penjuru Bumi. Letusan gunung berapi di daerah tropis, misalnya, dapat menyebabkan penipisan ozon di wilayah yang luas. Bahkan letusannya memiliki dampak hingga ke Antartika dan Artik, dua lokasi yang lapisan ozonnya sudah bolong.
Kruger mengatakan, beberapa gas vulkanik umumnya dapat bertahan di stratosfer hingga enam tahun. Kendati, dalam kasus letusan Gunung Pinatubo, dampak paling signifikan terjadi hingga dua tahun kemudian. Letusan stratovolcano di pulau Luzon, Filipina, pada 1991 ini mengurangi suhu global sekitar 0,5 derajat Celsius hingga satu tahun berikutnya.
LIVESCIENCE | MAHARDIKA SATRIA HADI
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- FOTO: Putra Kedua Wayne Rooney
- Fatahillah:Kota Tua Tak Mungkin Kami Tangani Semua
- DPR Tak Mau Emosional Batasi Kepemilikan Asing
- Hari Terakhir, KPU Bakal Digeruduk 11 Parpol
- Israel Bantah Tembak Bocah Palestina 13 Tahun Lalu
- Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi
- Layani KJS, RS Port Medical Rugi 20 Persen
Berita Utama Teknologi
- Australia Kembangkan Gas Dari Kotoran Babi
- Yahoo! Pindah ke Gedung New York Times
- David Karp, 'Drop Out' SMA yang Kaya dari Tumblr
- Samsung Galaxy S4 Active, Ponsel Anti-Debu dan Air
- 8 Tahun YouTube, 100 Jam Video Diunggah per Menit
- Unair Kembangkan Vaksin H5N1 dari Teh dan Kakao
- Setrum Otak, Solusi Hadapi Matematika














