500 Karangan Bunga untuk Liem Sioe Liong

500 Karangan Bunga untuk Liem Sioe Liong

Dua orang petugas Singapore Cascet menyusun bunga di altar persemayaman Liem Sioe Liong (Sudono Salim), di Mount Vernon Singapura, Senin (11/6). ANTARA/Yunianti Jannatun Naim

TEMPO.CO, Singapura -- Sebuah tenda berpendingin ruangan telah berdiri di rumah duka Mount Vernon, Singapura, sejak Selasa 12 Juni 2012. Di dalamnya, sekitar 41 meja telah disediakan. Sepuluh buah meja di antaranya sudah ditata dan tertutup taplak.

Sebelum para tamu berdatangan, puluhan pekerja hilir-mudik di sela-sela meja. Mereka berkutat mencari tempat untuk menaruh 500 karangan bunga. Sementara di luar tenda, layanan valet--petugas pemarkir kendaraan--sudah siap menyambut kedatangan kendaraan tamu.

Inilah suasana rumah duka Mount Vernon, tempat kerabat dan kolega mengucapkan kata perpisahan ke Liem Sioe Liong. Kerap dipanggil dengan sebutan Sudono Salim, Liem meninggal dunia karena sakit di Singapura, 10 Juni 2012. Sebelum dikebumikan di pemakaman Choa Chu Kang Chinese Cemetery, Senin, 18 Juni 2012, jasad Liem disemayamkan di Mount Vernon.

Di atas meja yang sudah tertata, para pelayan mulai menyiapkan menu bagi pelayat. Ada ikan salmon dan ayam asap, cokelat mousse, serta kue keju. Deretan menu prasmanan itu disediakan perusahaan katering Mandarin Orchad.

"Acara duka kali ini sangat tidak biasa dibandingkan pelayatan yang pernah saya urus," kata kapten layanan Mandari Orchad, Jeffrey Yong.

Satu tamu yang ada di kerumunan adalah sutradara Indonesia, Raam Punjabi. Kata Raam, membeludaknya pelayat menunjukkan karakter dan kesuksesan Liem.

Menantu Liem, Franciscus Welirang, di hadapan para tamu menceritakan kepribadian mendiang mertuanya yang penuh kasih. Liem juga dikenal sebagai majikan yang baik. "Dia pun selalu mencari waktu untuk berkumpul dengan keluarga," kata Franciscus.

Pada kematiannya, Liem meninggalkan empat anak, putra dan putri, dengan 14 cucu serta enam cicit. Sebelum menetap di Singapura, Liem bersama keluarganya tinggal di Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Tapi pada 1998, Liem memboyong keluarganya ke Negeri Singa, usai penjarahan massa yang membuatnya merasa terusir dari Indonesia.

CORNILA DESYANA | MALAYSIA CHRONICLE

Berita Populer:
Inilah Miliarder Dotcom yang Pilih Hidup di Hotel
Tarian Tor - tor Mandailing Diklaim Malaysia
Dahlan: Bicara Capres? Rusak Semua Kerja Saya!
Inilah "Dosa" Secret Service Sejak 2004
Intelektual Muda Papua Sesalkan Pernyataan SBY

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X