Alasan Om Liem Trauma Pulang ke Indonesia  

Alasan Om Liem Trauma Pulang ke Indonesia  

Liem Sioe Liong alias Sudono Salim diwawancara wartawan usai acara wisuda mahasiswa gelar MBA Institut Prasetya Mulya, Jakarta, 1992. dok. TEMPO/ Hidayat SG

TEMPO.CO, Jakarta - Peristiwa kerusuhan Mei 1998 ternyata menyisakan trauma bagi Liem Sioe Liong atau Sudomo Salim. Trauma itulah yang akhirnya membuat pebisnis taipan asal Fujian, Cina, itu "mengungsi" ke Singapura pada 1998 dan tak pernah kembali ke Indonesia hingga tutup usia di umur 96 tahun.

Om Liem--begitu dia biasa disapa--bukan trauma lantaran hantaman krisis ekonomi yang memaksanya menyerahkan 108 aset kepada negara untuk melunasi utang Banduan Likuiditas Bank Indonesia sebesar Rp 52 triliun lebih.

"Om Liem benar-benar terpukul karena merasa terusir dari negeri yang turut ia bangun dari awal," kata Sudwikatmono, rekannya dalam kongsi yang dijuluki sebagai "The Gang of Four" bersama Djuhar Sutantoy alias Lin Wen Chiang dan Ibrahim Risjad. Sudwikatmono yang lebih dulu wafat menyampaikan itu dalam wawancara dengan Tempo pada 2003 lalu.

Sudwikatmono mengungkapkan, Liem selalu menanyakan ekonomi Indonesia setiap kali bertemu. "Dwi, kapan ini ekonomi baik?" kata dia menirukan Om Liem. Di balik harapannya pada perbaikan ekonomi itu tersimpan pula keinginan agar suatu hari kelahiran Fujian, 16 Juli 1916, itu bisa kembali ke Jakarta dan menutup mata di tanah yang memberikannya kemakmuran.

Francius Welirang, atau akrab disapa Franky, mengakui ada satu periode kala Om Liem sempat mengutarakan keinginannya untuk kembali ke rumahnya di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Beberapa kali pula pendiri kerajaan bisnis Grup Salim ini menengok rumahnya yang porak-poranda. "Tapi, akhir-akhir ini saya tidak pernah lagi mendengar soal itu dibicarakan," kata Franky. Hingga akhir hayatnya, rumah di Gunung Sahari itu dibiarkan penuh jelaga dan tak diperbaiki.

Pada saat kerusuhan Mei 1998 terjadi, rumah tempat tinggal Liem habis dijarah dan dibakar massa. Sejak itu, Om Liem bersama keluarganya "mengungsi" di Mountbatten, Singapura. Sejak aksi itu mereka tinggal di perumahan mewah di kawasan Katong, Mountbatten.

Y. TOMI ARYANTO | RINA WIDIASTUTI


Berita Populer:
Tarian Tor - tor Mandailing Diklaim Malaysia
Kenapa Ayu Dewi Kepincut Regi Datau
Nilai Rumah Om Liem di Singapura Hampir Rp 1 Triliun
Sutan Belum Tahu Foto Ventje Dirangkul Wanita
Kapan Jadwal Perampok Bank Terjadi
Putra Mahkota Arab Saudi Tutup Usia

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X