indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Pengelolaan Limbah Komunal Atasi Pencemaran Kali Surabaya

Pengelolaan Limbah Komunal Atasi Pencemaran Kali Surabaya

Tim Pramuka Penggalang berusaha menaiki rakit saat adu cepat meenyeberangi Kalimas di Pekan Kreativitas Pramuka di Taman Seruling, Surabaya, Minggu (10/30). Berbagai macam lomba mengisi kegiatan ini sebagai ajang membangun persahabatan dan kerjasama antar anggota Pramuka. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Surabaya - Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur Indra Wiragana mengatakan pihaknya akan membangun 74 instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di kawasan permukiman di sepanjang Kali Surabaya. Tahun ini mulai dibangun tujuh unit. "Anggarannya sangat besar, satu unit IPAL mencapai Rp 500 juta," katanya, Senin, 18 Juni 2012.

Menurut Indra, biaya pembangunan IPAL diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur. Sedangkan pemerintah kota dan kabupaten yang mendapatkan bantuan IPAL akan diminta menyediakan anggaran perawatan.

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jawa Timur, limbah domestik dari 6.170 rumah warga, yang berdiri di sepanjang bantaran Kali Surabaya, seharusnya ditampung oleh 74 IPAL. Selain itu, WC-WC terapung yang ada di Kali Surabaya juga harus diubah dengan mendirikan WC umum yang pembuangannya tidak langsung ke Kali Surabaya.

Indra menjelaskan bahwa limbah domestik menyumbang 60 persen pencemaran di Kali Surabaya, sedangkan sisanya, 40 persen, merupakan limbah perusahaan. "Selain membangun IPAL, kami juga mengusulkan untuk memperbanyak rusunawa (rumah susun sederhana sewa) yang bisa menampung warga yang bermukim di bantaran Kali Surabaya," ujarnya.

Saat ini BLH juga gencar melakukan patroli air untuk mengingatkan perusahaan yang berpotensi membuang limbahnya ke Kali Surabaya. Berbagai sanksi juga diberikan.

Indra mencontohkan, pabrik gula Gempol Krep, yang pada 26 Mei 2012 silam diketahui membuang limbahnya ke Sungai Surabaya, sudah langsung diberi sanksi penghentian produksi serta dalam proses pemberian sanksi hukum.

Direktur lembaga konservasi lahan basah atau Ecological Observation Wesland Conservation (Ecoton) Surabaya, Prigi Arisandi, mengatakan Kali Surabaya saat ini tak ubahnya sebagai WC umum raksasa. "Sebanyak 75,5 ton limbah domestik, yang di dalamnya juga ada tinja, menggelontor tiap hari ke Kali Surabaya," ucapnya.

Limbah domestik diperparah oleh 582 WC terapung di kawasan Sidoarjo dan 700 WC terapung di kawasan Surabaya.

FATKHURROHMAN TAUFIQ

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X