Bekas Sumur Bor Pertamina Telan 3 Korban

Bekas Sumur Bor Pertamina Telan 3 Korban

Pekerja memasang scraper (perangkat pembersih pipa) di menara reparasi sumur H-25 Lapangan Tempino, sumur TPN-211 yang dikelola Pertamina EP di Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi. ANTARA/ Reno Esnir

Grafis Terkait

TEMPO.CO, Jambi - Warga Desa Ciptodadi, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, sudah 20 tahun lebih resah dengan adanya 40 lokasi bekas galian sumur bor milik PT Pertamina Field Pendopo. Bekas sumur bor itu telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan menimbulkan korban jiwa.

"Sedikitnya sudah tiga warga saya yang meninggal dunia tenggelam di dalam kolam bekas galian sumur bor yang setiap kolamnya berdiameter 2 hektare persegi dan kedalaman lebih kurang 8 meter,” kata Sutono, Kepala Desa Ciptodadi, kepada Tempo, Minggu, 24 Juni 2012. Menurutnya, Pertamina tidak melakukan upaya penimbunan atau pemagaran terhadap sumur itu.

Sutono mengatakan pada tahun 2008 sumur itu menewaskan warga bernama Leonardus Theoprakoso bin Supeno, 8 tahun. Kejadian serupa dialami Nova, 7 tahun, tepatnya pada 11 Mei 2012. Sebelumnya, tahun 2000, Surisman bin Nasani, warga setempat juga meninggal dunia saat memperbaiki kebocoran pipa minyak dan gas.

Menurut Sutono, sedikitnya ada 40 lokasi kolam bekas galian sumur bor di sekitar desanya, empat di antaranya masuk dalam lingkungan permukiman penduduk dengan jarak 20–30 meter dari rumah warga.

“Kami telah beberapa kali menyampaikan keluhan ini, baik kepada pihak Pertamina maupun kepada Bupati Musirawas melalui Camat Sukakarya, tapi tidak mendapat tanggapan secara serius,” ujarnya.

Perhatian Pertamina terhadap warga desa juga dinilai kurang. “Jika kami minta bantuan melalui proposal tanpa melalui perjuangan keras dan getol tidak akan dikabulkan perusahaan,” katanya.

Saparudin Yassa, Direktur Eksekutif Yayasan Adil Lestari (YALI) yang mendampingi warga Ciptodadi, mengatakan pihaknya sudah beberapa kali meminta perhatian Pertamina atas kejadian ini.

“Kami juga telah mengirim surat langsung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tembusan ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral dan Komisi Hak Asasi Manusia, supaya diturunkan tim khusus untuk dapat menyelesaikan permasalahan ini,” kata Saparudin.

Camat Sukakarya, Diki Zulkarnain, menyatakan pihaknya sebulan lalu menyampaikan keluhan warga setempat, tapi belum mendapat tanggapan serius.

Haryono, Humas PT Pertamina Field Pendopo, saat dihubungi mengatakan pihaknya terlebih dahulu akan meneliti kondisi air di bekas galian itu. ”Bila tidak berbahaya, akan dilakukan penimbunan. Namun jika ada zat kimia berbahaya akan dilakukan penanganan secara khusus,” ujarnya.

Di lain pihak, Haryono membantah klaim bahwa PT Pertamina tidak menjalankan program CSR di kawasan itu. “Kami sudah sering memberikan bantuan, baik dalam bentuk rehab masjid, gereja maupun gedung sekolah. Bahkan bantuan lain seperti memberi beberapa unit komputer untuk kebutuhan warga Desa Ciptodadi,” ujarnya.

SYAIPUL BAKHORI

Berita terpopuler
Selingkuh 21 Tahun Terbongkar Gara-Gara Facebook

@TrioMacan2000: Saya Tidak Khawatir Terungkap

Siapa Aktor di Balik Video Porno Kim Kardashian?

Dilaporkan Marwan, @TrioMacan2000 Didukung Tweeps

Biaya Pendidikan Satu Pilot Militer Capai Rp 9,4 M

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X