Harga Gula di Palangkaraya Tembus Rp 16 Ribu Per Kilogram

Harga Gula di Palangkaraya Tembus Rp 16 Ribu Per Kilogram

Pekerja menimbang gula pasir di grosir gula di kawasan Cipaera, Bandung, Jawa Barat, Minggu (10/1). Harga gula di sejumlah daerah terus naik mencapai Rp 12.000 sampai Rp 12.500/kg di tingkat eceran. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Palangkaraya - Dalam sepekan terakhir harga gula di tingkat eceran di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, meningkat tajam, dari semula Rp 11 ribu per kilogram menjadi Rp 16 ribu per kilogram. Pedagang berdalih kenaikan harga ini disebabkan oleh pasokan barang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sudah beberapa hari tidak datang, sehingga stok menipis. Di sisi lain permintaan masyarakat tidak berkurang.

Dari pantauan hari ini di sejumlah pasar tradisional di Palangkaraya, seperti Pasar Palangkasari dan Pasar Kahayan, kenaikan harga gula ini terjadi hampir di semua pedagang eceran di kedua pasar ini. Bahkan ada pedagang yang hanya menjual beberapa kilogram dengan alasan barang mereka telah habis.

H. Jannah, pedagang sembako yang berada di Pasar Subuh Palangkasari, mengatakan sudah hampir sepekan ini distributor gula yang kebanyakan berasal dari Banjarmasin tidak lagi mengirimkan barang mereka ke Palangkaraya. Padahal biasanya rutin dua hari sekali barang selalu datang. Dan kalaupun ada datang barangnya tidak banyak, sehingga menjadi rebutan, selain itu harga dari distributror sudah naik duluan.

“Alasan para distributor barang belum datang dari Pulau Jawa, sehingga tidak bisa mengirimkan barang ke Palangkaraya. Mereka juga tidak menyebutkan alasan keterlambatan itu," ujarnya.

Padahal permintaan gula eceran oleh masyarakat tidak semakin berkurang, justru bertambah. Di sisi lain stok pedagang juga semakin menipis dan hampir habis karena tidak ada pengiriman gula. “Jadi sebenarnya kami para pedagang ini hanya mengikuti harga yang diberikan distributor dan kalaupun naik hal itu bukan malah menguntungkan kami justru sebaliknya karena pembeli semakin berkurang, sehingga berujung menurunnya pendapan kami,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Fahmi, seorang pedagang gula di Pasar Palangkasari mengatakan saat ini ia hanya bisa menjual gula eceran sehari paling banyak 50 kilogram, padahal sebelumnya bisa mencapai 100 kilogram per hari. Turunnya omzet penjualan ini dikarenakan masyarakat mengurangi pembelian gula dan ini membuat dirinya merugi. “Jangan dikira kenaikan harga ini membuat saya banyak untung, tapi malah merugi karena omzet penjulan menurun," ujar dia.

KARANA WW


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X