Suhatman Imam, Pengawal Semen Padang Jadi Juara

Suhatman Imam, Pengawal Semen Padang Jadi Juara

Para pendukung tim Semen Padang merayakan kemenangan bersama penyerang Edward Wilson Junior usai pertandingan Indonesian Premier League (IPL) di Stadion H Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, Minggu (24/6). ANTARA/Syafril Adriansyah

TEMPO.CO, Padang - Semen Padang memastikan menjuarai Liga Prima Indonesia (LPI) setelah menaklukkan Persiraja Banda Aceh 3-1 di Stadion H Agus Salim, Padang, Ahad lalu. Semen Padang mengumpulkan 43 poin dari 21 laga. Jauh meninggalkan rivalnya, Persema, yang meraih 33 poin dari 19 laga.



Di balik kesuksesan tim yang bermarkas di Indarung, Padang, itu, ada peran legenda sepak bola Indonesia yang kemudian menjadi pelatih: Suhatman Imam. "Saya bangga atas prestasi yang diraih. Ini berkat Tuhan dan kerja sama tim," ujar Suhatman kepada Tempo.



Pada saat yang bersamaan, Suhatman mengawal klub berjulukan Kabau Sirah itu melaju ke final Piala Indonesia melawan Persibo Bojonegoro pada 7 Juli mendatang. Bila Semen Padang menjadi juara Piala Indonesia, berarti Suhatman sukses mengawinkan kedua gelar juara dalam satu tahun.

Lelaki kelahiran Padang, Sumatera Barat, 56 tahun lalu, yang kerap disapa Pak Haji, itu mengawali kariernya di sepak bola pada 1975-1976. Ketika itu, Suhatman, yang bermain di PSP Semen Padang, memperkuat tim nasional dalam skuad PSSI Senior untuk Pra-Olimpiade di Jakarta. Dia lantas menjadi kapten timnas PSSI saat mengikuti kejuaraan Asia di Bangkok 1977.

Kariernya sebagai pemain sempat terancam akibat cedera parah di lututnya pada 1978. Dalam kerapuhan, dia diminta KONI Sumatera Barat melatih tim Sumatera Barat untuk PON 1981. Sukses membela daerahnya di PON, Suhatman bekerja di Bank Dagang Negara (BDN) di Padang.

Saat asyik bekerja, pada 1985, Suhatman diminta melatih Semen Padang untuk ikut Galatama. Kepiawaiannya sebagai mantan pemain dan pelatih klub sepak bola membawa Semen Padang menjuarai Piala Indonesia pada 1992 dengan menekuk Arema Malang 1-0. "Selama karier kepelatihan saya, ini prestasi yang paling membanggakan," ujar suami Eriningsih itu.

Karier kepelatihan Suhatman semakin memuncak. Dia didaulat menjadi asisten pelatih PSSI senior asal Serbia, Ivan Toplak. Tangan dingin Suhatman melahirkan banyak pemain terbaik di Indonesia. Saat melatih tim Primavera di Italia, ia melahirkan Kurniawan, Kuarniasandi, dan Bima Sakti. Sedangkan di Semen Padang, dia banyak membina pemain-pemain seperti Nil Maizar, Erol F. Iba, dan Elly Ebboy.

Namun, sebelum kembali melatih Semen Padang, Suhatman tidak bersedia menangani tim mana pun. "Saya kecewa saat melatih PSP Padang (1995-1996). Saat juara divisi utama, gaji pemain tidak dibayarkan. Makanya saya keluar," ujarnya. Namun dia sempat melatih Persebaya pada 2007.

Suhatman tetap melegenda. Itu sebabnya, pada 2010, ia kembali diminta melatih almamaternya, Semen Padang. Kali ini dia dipercaya menjadi penasihat teknik bagi muridnya, yang saat itu telah menjadi pelatih kepala, Nil Maizar. “Saya selalu memberi masukan kepada Nil Maizar,” tuturnya.



Atas kepiawaiannya, pada 2011, manajemen Semen Padang mengangkat Suhatman menjadi direktur teknik. Dan ketika Nil Maizar diminta PSSI menangani timnas senior, Suhatman naik jabatan menjadi pelatih kepala Semen Padang. Perjalanan karier Suhatman pun moncer. Dia berhasil mengawal Semen Padang ke gerbang juara LPI dan masuk final Piala Indonesia 2011/2012.



ANDRI EL FARUQI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X