3 Penyebab Kemungkinan Pemilih Golput

3 Penyebab Kemungkinan Pemilih Golput

Baliho sosialisasi enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 di kawasan Jagakarsa, Jakarta, Kamis (5/7). ANTARA/Widodo S. Jusuf

TEMPO.CO , Jakarta: Pengamat politik Centre for Electoral Reform (Cetro), Refli Harun, mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan penduduk Jakarta tidak tahu atau belum memutuskan pilihannya untuk memilih Gubernur DKI Jakarta. “Penyebabnya bisa karena kesadaran politik yang membuat dirinya enggan memilih, karena kesalahan teknis, atau karena masyarakat yang sudah apatis,” kata Refli saat dihubungi Sabtu, 7 Juli 2012.

Penyebab pertama, ia menjelaskan, adalah karena banyak masyarakat yang menggunakan kata hatinya untuk menilai visi dan misi seorang calon gubernur. Refli mengatakan, saat kata hati masyarakat itu menyebutkan tidak ada calon gubernur yang cukup baik, maka saat itu juga masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya.

Untuk penyebab kedua, kata Refli, adalah karena kesalahan teknis dalam pencatatan daftar pemilih tetap. Ia menjelaskan, banyak masyarakat yang sebenarnya memiliki kartu tanda penduduk Jakarta namun tidak memiliki hak pilih karena tidak tercatat sebagai DPT. Kemungkinan karena masyarakat itu sendiri yang sengaja tidak mendaftarkan dirinya kembali atau karena dia memang tidak tahu bahwa dirinya tidak tercatat sebagai DPT.

“Dan bisa juga sebaliknya,” kata Rafli. Bisa saja ada masyarakat yang tercatat memiliki KTP ganda dan menyebabkan dirinya termasuk DPT ganda. Namun saat pencoblosan, masyarakat itu hanya mencoblos satu kali. Sehingga seolah-olah ada DPT lain yang tidak mencoblos, padahal tidak ada.

Sedangkan penyebab ketiga, menurut dia, adalah karena sikap apatis masyarakat. Refli mengatakan fenomoena tersebut memang banyak terjadi di tengah masyarakat di negara berkembang. Karena banyak masyarakat yang berpikir dia memilih atau tidak, tidak ada perbedaan yang akan ia rasakan. Masyarakat itu berpikir siapa pun gubernurnya, mereka tetap bekerja dan mendapatkan gaji seperti biasa.

Ketiga penyebab tersebut menurutnya masing-masing memiliki proporsi yang sama terhadap kemungkinan penyebab terjadinya golongongan putih atau orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya. Menurutnya, ketiga penyebab tersebut akan menyumbang masing-masing 10 persen pemilih golput.

Rafli memperkirakan ada sekitar 30 persen pemilih golput atau hanya ada 70 hingga 75 persen masyarakat yang menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Gubernur DKI jakarta. Angka tersebut ia jelaskan merupakan angka rata-rata nasional keikutsertaan masyarakat dalam pemilihan kepala daerah.

“Ini memang biasa terjadi di negara maju dan berkembang,” kata Refli. Ia mengatakan di negara maju seperti Amerika Serikat, angka keikutsertaan masyarakatnya dalam pemilihan umum hanya berkisaran 50 hingga 75 persen. Karena di negara maju dan berkembang, masyarakat kelas menengah mulai melek politik. Mereka ia katakan mulai bisa menentukan hak suaranya karena kesadaran politiknya.

Sayangnya, golongan masyarakat kelas menengah itu pula yang ia katakan akan menyumbangkan angka suara golput. Ia memperkirakan mereka enggan memberikan hak suaranya karena alasan tidak ada calon yang cocok sesuai kata hati mereka atau karena mereka apatis dengan pemilihan kepala daerah.

Sebelumnya, berdasarkan survei Jaringan Suara Indonesia menyebutkan setidaknya terdapat 21,1 persen warga Jakarta menyatakan tidak tahu, tidak mau menjawab, belum memutuskan, atau rahasia pasangan yang akan mereka pilih dalam pemilihan tanggal 11 Juli mendatang.

RAFIKA AULIA

Berita lain:
JSI Akui Surveinya untuk Kepentingan Foke-Nara

Survei JSI: Ada 46 Persen Pemilih Ragu

Sidang Kasus DPT, Ketua KPU DKI Dijatuhi Sanksi

Hartati Murdaya Bantah Sumbang Foke Rp 10 miliar

Aburizal: Saya yang Minta Alex Pimpin Jakarta

Komentar (2)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Alhamdulillah saya MENYESAL terlebih dahulu, seandainya saya terdaftar, lalu mencoblos salah salah satu hidung atau mata dari calon gubernur itu dan yg saya coblos itu ternyata Kalah TIDAK ADA KERUGIAN BAGI SAYA dan seandainya yg saya coblos itu menang TIDAK ADA KEUNTUNGAN BAGI SAYA malah yg ada penyesalan kemudian..
0
0
Alhamdulillah saya MENYESAL terlebih dahulu, seandainya saya terdaftar, lalu mencoblos salah salah satu hidung atau mata dari calon gubernur itu dan yg saya coblos itu ternyata Kalah TIDAK ADA KERUGIAN BAGI SAYA dan seandainya yg saya coblos itu menang TIDAK ADA KEUNTUNGAN BAGI SAYA malah yg ada penyesalan kemudian..