indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Gaya Lukisan Affandi Masih Dipertanyakan

Gaya Lukisan Affandi Masih Dipertanyakan

Puteri maestro lukis Affandi, Kartika Affandi (kiri), dan Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa (dua kiri) saat melihat galeri lukis milik Affandi pada acara memperingati 100 tahun Affandi di Yogyakarta, (8/7). ANTARA/Regina Safri

TEMPO.CO, Yogyakarta - Gaya lukisan maestro pelukis Indonesia, Affandi Koesoema, yang akrab disapa Affandi, hingga saat ini dipertanyakan. Padahal pelukis kelahiran 1907 itu telah meninggal pada 1990. Hal itu terungkap dalam diskusi buku The Stories of Affandi di Museum Affandi, Senin, 9 Juli 2012.

Ada yang menyebut lukisan Affandi bergaya surealis, realis, dan ekspresionis. "Meski banyak yang bilang karya Affandi bergaya surealis, sebenarnya Affandi ingin dilihat sebagai seorang realis," kata Pembantu Rektor II Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, M. Agus Burhan, Senin.

Menurut Agus, perjalanan seni lukis Affandi dapat dilihat lewat beberapa tahapan. Tahap pertama merupakan masa pencarian yang ditandai dengan memperdalam realisme. Meski awalnya sempat mendua dengan gaya realis dan ekspresionis, Affandi mulai cenderung bergaya ekspresionis, seperti pada karya lukisan berjudul “Iboekoe” (1943), “Karosel” (1943), “Kamarkoe” (1943), “Burung Mati di Tangankoe” (1945), serta “Laskar Rakyat Mengatur Strategi” (1946). Karya sketsa dan lukisan hitam-putihnya juga menunjukkan arah yang kuat pada gaya ekspresionisme.

Gaya lukisan Affandi, kata Agus, makin matang setelah belajar di Shantiniketan dan pameran keliling India dan Eropa pada 1949-1955. Kematangan itu ditandai dengan keliaran Affandi memakai teknik pelototan dari tube cat minyak dan basuhan tangan langsung pada kanvas. "Teknik itu menjadi kekhasan Affandi," ujarnya. Karena itu pula, banyak orang terkecoh dengan menyebut lukisan Affandi yang tak memakai teknik pelototan bukan karya Affandi.

Kolektor lukisan, Oei Hong Djien, pun menegaskan bahwa segala teknik yang dilakukan Affandi tidak ditemukan di bangku akademik. "Affandi itu seorang otodidak. Lukisannya penuh kadar emosi," kata Oei.

Ketua Jurusan Ilmu Religi dan Budaya Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, St. Sunardi, menambahkan, membaca karya lukisan Affandi tak membuat kening berkerut. Meski tema karyanya berat, "Justru melihat karya Affandi membuat kami serius untuk menertawakan diri sendiri. Itu hebatnya Affandi," kata Sunardi.

Buku itu berisi kumpulan tulisan dari 15 penulis yang mempunyai kedekatan emosional dengan Affandi, termasuk Sumardjono, sopir pribadi Affandi. Peluncurannya dilakukan pada Ahad pekan lalu oleh Menteri Perekonomian Hatta Rajasa. "Ini adalah buku pertama yang menulis soal Affandi dari sisi kekeluargaan, bukan hanya karyanya," kata cucu Affandi, Helfi Dirix.

PITO AGUSTIN RUDIANA

Berita lain:

Kenapa Angka 7 Begitu Istimewa untuk Regina Idol

Ledekan ala Tompi dan Glenn di Jazz Gunung

Trio Macan Sebarkan ''Iwak Peyek'' di Malaysia






Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X