Para peserta berbusana tradisional berjalan kaki dari menuju Situs Astanagede  pada acara Ruwatan

Para peserta berbusana tradisional berjalan kaki dari menuju Situs Astanagede pada acara Ruwatan "Nyiar Lumar" di Astanagede Kawali, Jawa Barat, (7/7). TEMPO/Deden Abdul Aziz

Ruwatan Nyiar Lumar Menapaki Sejarah Sunda

TEMPO.CO, Ciamis - Situs Astanagede di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, bersolek pada Sabtu, 7 Juli 2012. Sejak siang hari, orang-orang dari berbagai penjuru mata angin berdatangan ke kota kecil di utara Ciamis yang dulu menjadi ibu kota Kerajaan Galuh ini. Mereka datang dari Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Kuningan, Cirebon, Bandung, bahkan Jakarta.

Malam harinya, di Astanagede itu digelar ruwatan budaya dua tahunan yang dikenal dengan sebutan "Nyiar Lumar". "Ruwatan Nyiar Lumar ini bukan untuk memanjangkan dendam, tapi bagian dari pengenalan perjalanan sejarah kami. Di sini, di Astanagede, dipendam abu jenazah Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan semua yang gugur di Perang Bubat," ujar Daday Hidayat, salah seorang tokoh warga setempat.

Kegiatan yang digagas Teater Jagat Kawali dan Studio Titik Dua Ciamis tahun 1998 silam ini telah menginjak perhelatan yang kedelapan tahun ini. Selain menjadi hajatan bagi para seniman dan budayawan, kegiatan ruwatan ini pun menjadi daya tarik bagi warga sekitar yang bangga sebagai trah Prabu Linggabuana dan Putri Dyah Pitaloka, yang binasa di Palagan Bubat.

Daday menjelaskan bahwa setelah kematian raja dan putri pada Perang Bubat akibat kesalahpahaman, Kerajaan Galuh menjadi satu-satunya kerajaan yang tidak takluk kepada Majapahit.

"Usai perang itu, Kerajaan Galuh mencapai kejayaan dipimpin Prabu Niskala Wastukancana, putra mahkota yang ditinggal mati ayahnya, Prabu Linggabuana, saat berusia 8 tahun," tutur Daday.

Dalam acara Nyiar Lumar, para pelancong diajak mengitari situs seluas 4 hektare lebih.
Untuk mengikuti kegiatan Nyiar Lumar, para peserta, kecuali warga setempat, diharuskan menggunakan busana yang bernuansa etnis. Kaum perempuan mengenakan kebaya, sedangkan laki-laki menggunakan pantalon dan beskap atau pangsi.

Setelah dibuka dengan pantun rajah yang berisi uraian sejarah Kerajaan Galuh, para peserta diajak berjalan kaki sejauh 2 kilometer menuju lokasi situs. Perjalanan yang disebut ngaraas ini berupa arak-arakan obor melintasi jalan setapak, persawahan, dan melintasi bebatuan Sungai Cikadongdong.

Tiba di pintu gerbang Situs Astanagede, para peserta disuguhi kesenian tradisional Gondang Buhun, Genjring Ronyok, dan tarian Buka Lawang dari para penari Studio Titik Dua Ciamis.

Memasuki areal situs, peserta diajak berkeliling menyaksikan batu-batu tulis peninggalan Kerajaan Galuh. Batu-batu itu memiliki nama dan sejarah. Ada batu Pangeunteungan, tempat abu jenazah Dyah Pitaloka disemayamkan. Konon batu tersebut adalah tempat putri berhias karena kata pangeunteungan berarti tempat bercermin (eunteung = cermin).

Ada juga batu Linggahiang, tempat disemayamkan abu permaisuri, dan batu Panyandungan, tempat disemayamkan abu Prabu Linggabuana. Selain itu, ada pula batu-batu lain yang merupakan prasasti berisi tulisan, seperti pada batu Linggabingba dan batu Panyandaan. Seluruh batu peninggalan berada di satu lokasi yang sudah diberi tanda oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Ciamis.

Ada pula panggung yang ditata untuk pementasan teater, performance art, dan pembacaan puisi dan fiksimini, khusus berbahasa Sunda. "Pembacaan karya ini sengaja dilakukan di areal situs untuk mengingatkan bahwa di sini ada karya tulis adiluhung yang terpahat di batu-batu," ujar Godi Suwarna, seniman dan budayawan Sunda yang juga penggagas acara Nyiar Lumar ini.

Ruwatan yang digelar semalam suntuk ini ditutup dengan pementasan Ronggeng Gunung Nyai Raspi di kompleks Cikawali, tak jauh dari mata air tempat putri keraton mandi pada masa kejayaan Kerajaan Galuh. Di areal tersebut, setiap ruwatan Nyiar Lumar, selalu digelar ronggeng gunung, sebuah kesenian tradisional khas Ciamis yang nyaris punah.

"Ronggeng gunung sengaja menjadi penutup kegiatan sebagai bagian dari pelestarian seni tradisi yang hampir hilang. Para peserta dipersilakan menari bersama para penari ronggeng gunung sampai fajar tiba," kata seniman yang pernah diundang untuk membacakan puisi-puisi berbahasa Sunda di Berlin, Amsterdam, dan Melbourne ini.

Nyiar Lumar sendiri, kata Godi, secara definisi bisa diartikan mencari jamur (bahasa Sunda). Nyiar artinya mencari, sedangkan lumar adalah sejenis jamur yang tumbuh di hutan dan memancarkan cahaya.

"Jamur jenis ini tak bisa sembarang ditemukan. Hanya orang-orang yang memiliki hati bersih yang bisa kawenehan (kebetulan) menemukannya. Acara Nyiar Lumar ini bisa diibaratkan orang mencari cahaya untuk bekal hidup dengan belajar dari sejarah," ujar Godi.

DEDEN ABDUL AZIZ