Ini Cara-cara Tarik Pemilih untuk Nyoblos

Ini Cara-cara Tarik Pemilih untuk Nyoblos

Suasana pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta di TPS 021, Pejompongan, Jakarta, Rabu (11/7). TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak cara untuk menarik minta pemilih agar mau menyumbangkan suara dalam pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Seperti yang dilakukan panitia pemilihan kepala daerah di Muara Karang Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, dan daerah Kampung Beting, Kelurahan Semper, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.

Di Muara Karang, kompleks tempat tinggal calon wakil gubernur Basuki Tjahaja, hansip atau linmas setempat dilibatkan. Dua orang di antara mereka berkeliling-keliling kompleks itu dengan menggunakan motor. Menggunakan pengeras suara, mereka mengumumkan lokasi tempat pemungutan suara serta mengajak warga untuk memilih.

"Kami memang diminta RW untuk keliling pakai Toa," kata salah satu hansip, Hendi, kepada Tempo di TPS 059 daerah itu pada Rabu 11 Juli 2012. Namun memang bukan Hendi yang berkeliling memberi pengumuman, melainkan temannya bernama Yanto dan Sukamto. Untungnya, tidak ada satu pun warga yang memprotes terkait pengumuman keliling dengan toa sejak pukul 9 hingga 12 siang ini.

Lain daerah Muara Karang, lain pula daerah Kampung Beting. Orang tidak akan melihat TPS yang hanya bertenda terpal seperti biasa. TPS nomor 081 ini terlihat jauh lebih mewah.

TPS ini bahkan justru terlihat seperti sebuah tempat kondangan. Tenda-tenda bernuansa emas dan putih menghiasi tempat itu. Kursi-kursi tempat tunggu para pemilih pun dilapisi kain putih seperti pada acara nikahan.

Meja-meja juga disarung dengan warna senada dengan warna kain penutup kursi. Tulisan "Selamat Datang" yang terbuat dari kardus dan gabus langsung menyambut tamu di depan pintu masuk TPS itu. Hiasan unik yang terbuat dari botol Aqua yang diwarnai dengan warna pink pun terpajang di kedua tiang tenda pintu masuk itu.

Keunikan tempat mencoblos ini tidak hanya terlihat dari hiasannya, tapi juga terlihat pada para penjaganya. Para petugas memakai kostum enam buah daerah yang berbeda. Dua orang memakai baju Betawi, satu orang memakai baju khas Nias. Kemudian satu orang lagi menggunakan baju khas Madura, Bugis, Jawa dan terakhir Bali. Ketujuh panitia itu terlihat semringah menyambut para calon pemilih.

"Ini namanya TPS Bhineka Tunggal Ika," kata Ketua RW 09 Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Nanang Suwardi, pada Rabu, 11 Juli 2012 di TPS itu.

Nama TPS itu memang bercirikan sesuai dengan tema hiasan dan dekorasi TPS. Menurut Nanang, ide membuat hiasan ini berdasarkan pada keberagaman penduduk Jakarta yang multietnis.

Lagi pula ia juga ingin mengedepankan semangat persaudaraan melalui hiasan ini. "Dengan busana daerah, kami ingin semangatkan kembali persaudaraan antardaerah," katanya.

Selain itu, hal ini diharapkan sebagai salah satu daya tarik bagi pemilih untuk ikut dalam pesta demokrasi ini. Namun ia tidak yakin 100 persen warganya akan ikut memilih.

"Banyak juga warga saya yang pergi ke luar kota," kata pria yang memakai kaus biasa itu. Hingga pukul 12.30, hanya terdapat 270 warga yang mencoblos. Jumlah ini jauh berbeda dari jumlah total pemilih di wilayah itu yang mencapai 520 pemilih.

Nanang tidak berkecil hati. Dia memang sudah berusaha menarik minat warga. Edi, warga RT 08 daerah itu, mengatakan hiasan seperti ini luar biasa. "Bagus banget. Ini sangat populer di sini," kata pria 40 tahun ini yang baru selesai mencoblos.

Nanang mengatakan ini adalah satu-satunya TPS dari sembilan TPS di RW itu yang memakai hiasan berbeda.

MITRA TARIGAN



Berita Terkait:
Taufiq Kiemas Yakin Jokowi Masuk Dua Putaran
Menteri Agus Coblos Calon Gubernur yang Bawa Perubahan
Nyoblos, Taufiq Kiemas Tak Pakai Baju Kotak-Kotak
Jokowi Siap Koalisi dengan Hidayat Nur Wahid
Gara-gara DPT, Panitia Diprotes Pemilih
Ada Modus ''Pascabayar'' di Pilkada DKI
Tahanan Polda Metro Kehilangan Hak Pilih
Inilah Celah Pelanggaran di TPS dalam Pilkada DKI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan