Polri Kerahkan Satu Peleton Amankan Bentrok Pulau Buru

Polri Kerahkan Satu Peleton Amankan Bentrok Pulau Buru

Ratusan warga Karawana dan Soulove, kecamatan Dolo, saling menyerang menggunakan berbagai senjata tradisional berupa dumudum, senapan angin, panah, parang bahkan senjata rakitan di areal persawahan, Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah Jum'at (18/5). ANTARA/Zainuddin MN

TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian RI mengerahkan bantuan sebanyak satu peleton untuk menjaga keamanan setelah bentrokan di lokasi penambangan emas di kawasan Gunung Botak, Desa Wamsaid, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Maluku. Personel tambahan ini dikirim untuk membantu Polisi Resor Pulau Buru dalam mengatasi rusuh di Pulau Buru yang menyebabkan empat orang meninggal dunia itu.

"Satu peleton dari satuan Sabara dan Brimob," kata Kepala Bagian Penerangan Umum, Komisaris Besar Agus Rianto, saat ditemui di kantornya, Kamis, 12 Juli 2012.

Agus menyatakan sekitar 60 orang ini masih mencoba menjaga situasi tempat kejadian perkara yang juga terputus akibat banjir. Pengamanan ini, menurut dia, juga dibantu personel TNI.

"Empat orang yang meninggal dunia adalah satu warga dari Kecamatan Ambalaw, satu warga adat, satu warga asal Tasikmalaya, dan satu warga asal Manado," katanya.

Agus menyatakan polisi hingga saat ini masih mengembangkan dan menyelidiki kasus itu. Dugaan sementara bentrok masyarakat ini adalah masalah perebutan lahan yang adalah tambang emas.

Beberapa masyarakat, menurut dia, mengklaim kepemilikan tempat. Rasa tidak senang terhadap masyarakat lain ini yang menjadi pemicu konflik berdarah. Namun, meski sudah terjadi beberapa kali, polisi masih belum menetapkan tersangka.

"Kemungkinan adalah kelompok penambang liar, kita pastikan dalam penyelidikan selanjutnya," kata Agus.

Selain empat orang meninggal dunia, peristiwa ini juga menyebabkan satu orang mengalami luka-luka. Menurut Agus, korban-korban dibawa ke RSU Namlea, Buru.

Para penambang emas di kawasan Gunung Botak ini diserang dengan senjata tajam orang yang tidak dikenal pada 9 Juli 2012.

Penyerangan ini juga diduga merupakan kelanjutan bentrok yang terjadi sebelumnya pada Mei 2012. Sejak tambang tersebut ditemukan, bentrok yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka beberapa kali terjadi. Selain itu juga korban akibat longsor pengalian pada 11 Juni 2012.

FRANSISCO ROSARIANS

Berita lain:
Mengapa Jokowi Bisa Memutarbalikkan Hasil Survei

Saling Sindir Joko Widodo dan Fauzi Bowo

Pembantu Indonesia Jadi Miliarder

Rahasia Jokowi di Masa Kecil

Ini Kunci Keunggulan ''Sementara'' Jokowi


 





Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X