Aksi Jokowi Menggerus Basis Pemilih Foke

Aksi Jokowi  Menggerus Basis Pemilih Foke

Jokowi makan bakso (4/7). TEMPO/Ananda Teresia

TEMPO.CO, Jakarta - Di balik kemenangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, ternyata ada strategi modern yang dimainkan untuk menggerus basis pemilih calon gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Meski dana cekak mereka mengerahkan banyak tim sukarelawan yang bergerak. Siapa saja mereka? Laporan utama majalah Tempo edisi 16 Juli 2012 bertajuk "Ronde 2 DKI-1" mengungkap hal tersebut.

Bagi Joko Widodo, pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta layaknya permainan sepak bola. Untuk melawan juara bertahan yang didukung dana berlimpah dan suporter luas, timnya harus menyiapkan strategi jitu dengan menyerang langsung ke jantung pertahanan lawan.

Wali Kota Solo ini menyebut strateginya itu tiki-taka ala sepak bola Spanyol. Negara itu baru saja menjadi kampiun Piala Eropa dengan memainkan sepak bola indah, berupa operan-operan pendek yang cepat dan gerak gesit para pemainnya. "Kalau Spanyol operan pendek, kami umpan manis ke kampung-kampung," kata calon yang diajukan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra itu pekan lalu.

Dalam hitung cepat lembaga survei beberapa jam setelah pemungutan suara ditutup pukul 13.00, Rabu pekan lalu, Joko Widodo, yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, meraup dukungan terbanyak, yaitu 42,6 persen. Angka itu melampaui perolehan suara pasangan inkumben Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, yang hanya 33 persen.

Perolehan suara Jokowi ini mengejutkan banyak orang, bahkan tim suksesnya sendiri. "Kami tak menyangka angkanya setinggi itu," kata Andrinof Chaniago, Direktur Eksekutif Cirus Surveyors Group, lembaga survei yang disewa Partai Gerindra. Soalnya, pada penghitungan sebelum pencoblosan, Jokowi diperkirakan memperoleh suara di bawah Fauzi.

Padahal Jokowi tak punya waktu cukup untuk berkampanye. Sejak mendaftar sebagai calon, Maret lalu, Jokowi harus membagi konsentrasinya antara Jakarta dan Surakarta. Setiap Kamis ia terbang ke Jakarta dan balik tiga hari setelahnya.

Permohonan cuti untuk kampanye juga tak segera dipenuhi Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Meski sama-sama kader PDI Perjuangan, keduanya pernah secara terbuka berseteru, terutama ketika Jokowi menentang keras pembangunan mal yang didukung Gubernur di kotanya. Jokowi sampai mengirim tim kuasa hukum menemui Bibit untuk mengurus cuti itu.

Izin cuti itu kemudian turun. Jokowi hanya diberi waktu dua pekan. Itu pun masih harus memenuhi undangan rapat pleno di DPRD. Celakanya, jadwal rapat yang harus dihadiri Wali Kota diubah menjadi Senin pagi. Praktis, Jokowi hanya punya waktu Sabtu dan Minggu di Jakarta.

Dengan waktu terbatas Jokowi, tim pasangan itu harus bergerak cepat. "Kami harus menentukan titik mana saja yang menjadi basis lawan," kata Basuki, yang akrab disapa Ahok. Basis lawan adalah kelurahan yang mayoritas mencoblos Fauzi Bowo dalam pemilihan gubernur 2007.

Menggunakan basis daftar pemilih sementara, tim Jokowi juga mengidentifikasi wilayah-wilayah berdasarkan kelurahan dengan pemilih terbanyak. Dipetakan lagi wilayah dengan rata-rata jumlah anggota keluarga 4-6 orang terbanyak. Tim juga menggolongkan daerah dengan jumlah golput terbanyak, miskin, bersuku Jawa, dan beragama Islam.

Dengan aneka kriteria itu, tim menentukan 77--dari 267--kelurahan yang harus didatangi Jokowi dan Ahok pada masa kampanye. Penentuan materi kampanye disesuaikan dengan masalah setiap daerah. Di kelurahan miskin, Jokowi berkampanye soal asuransi kesehatan dan pendidikan, yang sukses ia bikin di Solo. Di daerah yang banyak pemilih pemula dan "golongan putih", ia berkampanye: "Jangan golput, kan ada saya."

Menurut ketua tim suksesnya, Boy Sadikin, ada beberapa tim yang menyokong kampanye Jokowi. Selain tim sukses resmi yang ia pimpin dan Cirus, ada lembaga konsultan politik Polmark Indonesia, Tim Merah Putih yang diisi sukarelawan PDI Perjuangan dan Gerindra, serta 20 ribu sukarelawan Mangunsarkoro--pada 2009 dipakai pengusaha jamu Mooryati Soedibyo untuk maju menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah. Sukarelawan itu berkumpul di posko dekat rumah Mooryati di Jalan Ki Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat.

Serangan ke pertahanan lawan itu meredam sorak-sorai pendukung Fauzi Bowo, yang sebelum pencoblosan mengklaim bakal menang satu putaran.

BAGJA HIDAYAT | ANANDA TERESIA | GADI MAKITAN | ANANDA BADUDU | PRAMONO

Berita Terpopuler Lainnya
Jokowi-Foke Berpacu Menuju Putaran Final

Berkah Jokowi Cium Tangan Taufiq Kiemas

Jokowi Hanya Punya Rp 15 Juta untuk ''Mengebom''
Aksi Jokowi Menggerus Basis Pemilih Foke
Fauzi Bowo Temui Petinggi PKS

Kubu Jokowi Tolak Makelar Koalisi

Pilkada Jakarta, Demokrat Akui Terlena Survei

Komentar (6)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Menurut Ahok, Jokowi adl org cerdas tp tdk tahu klo dia cerdas. Menurutku Jokowi adl org cerdas yg tdk mau memperlihatkan kecerdasannya kecuali pas dibutuhkan. Maju terus Jokowi.....putaran kedua lawanmu sdh bkn Foke saja tp SBY sdh ikut turun tangan. Salam metal m/_
1
0
Bila yang muslim memilih Jokowi yang muslim, kan ga masalah toh? Nyang jadi Gubernur kan Bang Joko, bukan Koh Ahok. Kita doakan saja agar Bang Joko sehat senantiasa sehingga secara politis Koh Ahok tidak perlu sampai menggantikan posisi Bang Joko. Koh Ahok dibutuhkan agar partisipasi Engkoh Engkoh laen ke Jakarta ini makin mantap. Tidak perlu lagi Engkoh Engkoh itu terlalu banyak makan tai orang asing untuk taro duit dinegara luar.
0
0
dr nama nya aja udh ketauan, joko widodo, basuki tjahaya purnama, kebijakan yg penuh cahaya bulan purnama, smg sukses menaungi anda pak joko
0
0
inikah pencitraan? bkn!! ini adlh permainan taktik yg indah, efektif,murah, jitu, penuh intuisi..biarkan lawan berkoar2 tp tnp sadar tertikam dgn mematikan..salut!!!
0
0
Ronde 2 Foke dipukul KO Jokowi. Apa yg ditulis Tempo blm semua strategi jokowi diceritakan dan ada beberapa strategi yg tdk akan bisa dilakukan oleh FOke Nara maupun Timsesnya. Nanti jika Jokowi terpilih saya baru mau cerita pada tempo.
Selanjutnya