Bank DKI Optimistis IPO Sesuai Jadwal

Bank DKI Optimistis IPO Sesuai Jadwal

Dari kiri, Direktur Operasional Bank DKI Martono Soeprapto, Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono dan Direktur Pemasaran Bank DKI Mulyatno Wibowo berbincang saat acara silaturahmi dengan wartawan di Jakarta, Jumat (3/8). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono, mengatakan rencana Bank DKI untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering - IPO) masih berjalan sesuai rencana. Namun, mereka belum bisa memastikan apakah rencana tersebut bisa terealisasi pada paruh pertama 2013.

"IPO masih on track untuk semester I tahun 2013. Saya harap on schedule," ujar Eko menjelaskan di Kantor Pusat Bank DKI, Jakarta, Rabu, 8 Agustus 2012.

Eko menjelaskan ada tiga alasan kenapa Bank DKI berupaya melakukan IPO di semester I 2013 nanti. Alasan pertama adalah untuk menjaga status good corporate governence. Salah satu kunci dari good corporate governence yang baik adalah transparansi laporan keuangan. Dengan melakukan IPO, diharapkan hal itu bisa tercapai.

Alasan kedua adalah untuk mengejar bank BPD (Bank Pembangunan Daerah) yang sudah melakukan IPO terlebih dahulu. Adapun beberapa BPD yang sudah melakukan IPO, misalnya, Bank BJB dan Bank Jatim pada pertengahan bulan Juli lalu. "Kami tidak boleh ketinggalan. Kami menyusul Bank BJB, Bank Jatim, yang sudah IPO duluan," katanya. 

Alasan ketiga, kata Eko, untuk menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio – CAR) di level 14 persen. Eko mengatakan, saat ini CAR Bank DKI terus digerogoti oleh pertumbuhan kredit Bank DKI yang telah mencapai angka 37 persen pada paruh pertama 2012. "Sekarang saja, CAR kami masih di level 10,61 persen. Harapan kami, CAR berada di level 14 persen," jelasnya.

Saat ditanya mengenai besar nilai saham yang akan dilepas, Eko mengaku belum bisa menjawabnya. Ia mengatakan besaran saham yang akan dilepas masih dibicarakan. Di satu sisi, kata Eko, belum bisa diputuskannya besar saham yang dilepas karena pihaknya masih menunggu tambahan modal Rp 250 miliar dari APBD Perubahan 2012.

“Dana tersebut untuk menjaga agar kepemilikan pemerintah tidak terdilusi terlalu besar saat Bank DKI sudah melantai di bursa,” katanya.

ISTMAN MP

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X