Kasus Distop, Rhoma Irama: Alhamdulillah

Kasus Distop, Rhoma Irama: Alhamdulillah

Pedangdut Rhoma Irama (kiri) didampingi Ketua Panwaslu DKI Jakarta, Ramdansyah (kanan) ketika memberi keterangan kepada pers usai pemangglannya oleh Panwaslu DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (6/8). Pemanggilan tersebut terkait pernyataan Rhoma yang berbau SARA terhadap pasangan Cagub/Cawagub, Joko Widodo-Basuki Tjahaja ketika berceramah di Tanjung Duren, Jakarta Barat beberapa waktu lalu. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Pedangdut Rhoma Irama menyambut gembira kesimpulan Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta yang tidak akan melanjutkan kasus ceramah bernada suku, agama, dan ras (SARA) yang dia sampaikan ke polisi.

“Allhamdulillah, saya bersyukur. Ini berarti klarifikasi saya ke Panwaslu Jakarta dapat diterima dan apa yang saya ucapkan tidak melanggar Undang-Undang Pemilu serta tidak mengusung SARA,” kata Rhoma saat dihubungi, Ahad, 12 Juli 2012.

Menurut dia, kesimpulan Panwaslu sesuai dengan kewenangan dan kenyataan yang terjadi di lapangan. Terlebih lagi, lanjutnya, ceramah yang ia lontarkan bukan sebuah dakwah yang menyudutkan pasangan calon tertentu.

“Apa yang saya lakukan hanya untuk memberikan transparansi dan keterbukaan informasi kepada masyarakat,” kata Rhoma. Isi ceramah tersebut, ia melanjutkan, merupakan usaha untuk mengkritisi asal usul calon gubernur dan wakilnya, terutama dari sudut identitas pasangan calon.

Ia menjelaskan, dalam ceramah tersebut ia menjelaskan kepada publik asal usul etnis dan agama para calon. Seperti Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli yang keturunan Betawi dan beragama Islam, Joko Widodo yang keturunan Jawa dan beragama Islam, serta Basuki yang beretnis Tionghoa dan beragama Kristen.

Dirinya mengaku tidak pernah berkeinginan untuk menciptakan isu SARA. Tujuan ceramah tersebut, ia menjelaskan, agar masyarakat Jakarta yang memilih dalam pemilu putaran kedua mendatang dapat mengetahui identitas para calon dengan jelas.

Seperti diberitakan, Panwaslu DKI Jakarta menilai Rhoma secara kumulatif tidak memenuhi unsur-unsur pelanggaran yang terdapat dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Ia terbebas dari Pasal 116 ayat 1 yang mengatur tentang kampanye di luar jadwal dan Pasal 118 ayat 2 soal penghinaan terhadap pasangan calon kepala daerah dengan isu SARA, serta Pasal 116 ayat 3 tentang kampanye di tempat ibadah.

RAFIKA AULIA

Berita terkait:
Panwaslu Hentikan Penyelidikan Kasus Ceramah Rhoma
Tim Sukses Jokowi: Ceramah Rhoma Tetap Pidana
Pengamat: Rhoma Irama Tak Sensitif
Polemik Rhoma Irama, Jokowi Nyanyi ''Darah Muda''

Rhoma Irama: Saya Hanya Berdakwah

Alasan Rhoma Irama Menangis di Panwaslu

Komentar (107)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Blh jg ne kynye hj cabul 1ne,kpn2 ajak ane ye bang,aye jg mau kwin siri ky abang
0
0
Rhoma Irama,, sungguh TERLALUUUUU...... mending cari cwek sono... Daripda ngurusin agama,, gara2 elu,, kacau jdinya,, agama kq dibawa2 ke politik?? Bkin malu aj.....
0
0
Rhoma Irama,, sungguh TERLALUUUUU...... mending cari cwek sono... Daripda ngurusin agama,, gara2 elu,, kacau jdinya,, agama kq dibawa2 ke politik?? Bkin malu aj.....
0
0
Alhamdulillah, cewek bahenol yg dijanjikan foke buat saya sudah saya tiduri tadi malam. Saya siap jadi jurkam foke krn ada dapat hadiah cewek
0
0
gara2 rhoma nih.perspektif orang tentang islam jadi miring.seakan2 islam membolehkan sara dan menghalalkan segala cara walau itu lewat jalur yg akan merusak kerukunan umat beragama.dasar bodoh kau rhoma
Selanjutnya