'Piagam' Kesepakatan Syiah - Sunni

'Piagam' Kesepakatan Syiah - Sunni

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal (kanan) memberikan nasehat kepada dua penganut aliran sesat "Millata Abraham" (menutup muka) yang telah kembali ke ajaran Islam di Masjid Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. ANTARA/Irwansyah Putra

TEMPO.CO, Jakarta - Perbedaan tidak berarti perselisihan. Perbedaan dapat menjadi rahmat karena ia merupakan sumber kekayaan intelektual serta jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapi.

Tidaklah menjadi masalah besar perbedaan antarkelompok umat yang meyakini prinsip-prinsip pokok akidah dan syariah. Pasalnya, persoalan memang sebuah keniscayaan yang dibenarkan, bahkan terkadang dipicu oleh teks Al-Quran dan hadis. Perbedaan tadi baru berbahaya jika disertai fanatisme buta.

Hingga detik ini, sudah sering dilakukan pendekatan antara kelompok Sunni dan Syiah. Sekali waktu atas inisiatif Sunni, di kali lain Syiah, kemudian untuk ketiga kalinya atas prakarsa bersama. Tempat 'perundingannya' berbeda-beda dan tokoh pembicaranya silih berganti.

Mengutip buku “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” yang ditulis M. Quraish Shihab, cetakan kedua, April 2007, mengungkapkan, pada tanggal 28 Ramadan 1427 H atau 20 Oktober 2006 M telah dilakukan pertemuan antara ulama-ulama Irak yang bermazhab Sunnah dan Syiah di Mekah.

Pada pertemuan yang dipayungi Organisasi Konferensi Islam (OKI) itu, mereka membahas perpecahan yang mengakibatkan kafir-mengkafirkan antar-sesama muslim, bahkan pertumpahan darah yang mengatasnamakan Sunnah dan Syiah. Pertemuan tersebut mencetuskan piagam bersama yang terdiri dari sepuluh butir.

Sayangnya, hanya tiga butir saja yang diulas, yakni:

1. Seorang muslim adalah siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.
Kedua mazhab ini dinilai hanya berbeda dari sisi sudut pandang dan penafsiran, namun kedanya memiliki kesamaan soal prinsip-prinsip dasar keimanan. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Siapa yang berkata kepada saudaranya, 'wahai si kafir', maka salah seorang di antaranya adalah kafir.”

2. Darah dan harta benda kaum muslim serta kehormatan mereka haram diganggu.
Rasulullah bersabda, “Setiap Muslim atas Muslim yang lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
Karena itu, tidak dibenarkan menganggu seorang Muslim, Syiah atau Sunni, dengan membunuh, menyakiti, meneror, atau melakukan agresi terhadap hartanya, atau mendorong orang lain melakukan tindakan tersebut. Siapa yang melakukannya, maka dia telah lepas dari perlindungan kaum Muslim seluruhnya, tokoh-tokoh rujukannya, ulama-ulamanya, dan keseluruhan kaum Muslim.

3. Tempat-tempat peribadatan memiliki kesucian.
Termasuk masjid, Al-Husainiyat, atau tempat yang dihormati kelompok Syiah, serta tempat peribadatan nonmuslim.
Tempat tersebut harus tetap berada dalam wewenang pemiliknya serta dikembalikan kepada mereka, apa yang pernah dirampas darinya. Ini semua berdasarkan kaidah hukum Islam yang menegaskan: “waqaf sesuai dengan apa yang disyaratkan pemberinya”, “syarat pemberi waqaf serupa dengan teks keagamaan”, dan “apa yang dikenal sebagai tradisi serupa dengan apa yang disyaratkan.”

RINI KUSTIANI

Berita Terkait:
Liputan Khusus Syiah di Indonesia
Siapa Syiah, Siapa Sunni
Mengenal 4 Kelompok dalam Syiah

Persamaan dan Perbedaan Sunni-Syiah

Foto Anak dan Lansia Korban Penyerangan di Sampan
Pandangan Profesor Asal Iran soal Sunni-Syiah
Asal Muasal Perpisahan Syiah dari Sunni

Komentar (6)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
1
0
Kita prihatin,kelihatannya kita belum siap untuk berbeda.Sedangkang esensi menuju terbentuknya demokrasi adalah karena adanya perbedaan.Kita dalam kondisi dilematis,agama di bawa dan masuk ke domain politik akhirnya terjadi benturan.Agama adalah hakiki tanpa rekayasa,sedangkan politik adalah pabriknya rekayasa.Bagaimana mungkin air dapat tersintesa dengan minyak?
0
0
Kita prihatin,kelihatannya kita belum siap untuk berbeda.Sedangkang esensi menuju terbentuknya demokrasi adalah karena adanya perbedaan.Kita dalam kondisi dilematis,agama di bawa dan masuk ke domain politik akhirnya terjadi benturan.Agama adalah hakiki tanpa rekayasa,sedangkan politik adalah pabriknya rekayasa.Bagaimana mungkin air dapat tersintesa dengan minyak?
0
0
hanya orang orang Dzalim saja yg tidak TOLERAN dan merasa paling BENAR baik itu dari kalangan Ulama ataupun Ummat apalagi membunuh dan meng amini pembunuhan dan penyerangan itu.
0
0
Islam adalah Ideologi agama, ideologi kebangsaan (arab) mengandung banyak nilai2 politik, kekuasaan, dan syariat (undang) ketata negaraan. jadi hal wajar dalam politik caos sering terjadi. mampukah kita menganut Islam dari sudut pandang yang berbeda..? misalnya kendaraan manusia menuju keselamatan..?? kita sebaik nya kembali merenung..untuk apa kita beragama..??
0
0
wajar..kalau agama di samakan dengan ideologi politik..bukan kah sikut menyikut biasa dalam politik kekuasaan. mari beragama untuk keselamatan,,,bukan untuk pengaruh dan kekuasaan.
Selanjutnya
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X