indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Negara Ini Menolak untuk Jualan Coca-Cola

Negara Ini Menolak untuk Jualan Coca-Cola

AP/Matt Rourke

TEMPO.CO, Atlanta - Setelah hampir 60 tahun, minuman ringan asal Amerika Serikat, Coca-Cola, dijual lagi di Myanmar. Coca-Cola, yang menjual 1,8 miliar botol per hari, mulai melakukan pengiriman pertama ke Myanmar pada Senin dan produksi lokal akan segera dimulai.

Menurut penulis buku A History of the World in Six Glasses, Tom Standage, masuknya Coca-Cola ke dalam sebuah negara mengirimkan sebuah simbol yang kuat tentang hubungan Amerika Serikat dengan negara itu. "Saat Coca-Cola mulai pengiriman ke sebuah negara adalah saat Anda bisa mengatakan mungkin ada perubahan nyata terjadi di sana (negara itu)," katanya. "Coca-Cola adalah kapitalisme dalam botol."

Kini hanya ada dua negara di mana Coca-cola tidak secara resmi bisa dibeli atau dijual, yaitu Kuba dan Korea Utara. Hal ini disebabkan embargo perdagangan oleh Amerika Serikat. Coca-Cola mengatakan jika ada minuman yang dijual di negara-negara itu, mereka datang melalui "pihak ketiga yang tidak berwenang".

Kuba sebenarnya adalah salah satu dari tiga negara pertama di luar Amerika Serikat yang menjual coke, istilah lain Coca-cola, pada 1906. Namun, perusahaan itu pindah karena pemerintah Fidel Castro mulai merebut aset swasta pada 1960 dan tidak pernah kembali.

Di Korea Utara, zona bebas Coca-Cola lainnya, baru-baru ini sebuah laporan menyebutkan bahwa minuman ringan ini dijual di sebuah restoran di Pyongyang. Namun, Coca-Cola mengatakan jika ada minuman yang dijual, baik di Korea Utara atau Kuba, maka artinya minuman ini diselundupkan melalui pasar gelap, tidak melalui jalur resmi.

Minuman bersoda ini diciptakan pada 1886 di Atlanta, Georgia. Coca-Cola aktif menjual produknya hingga ke mancanegara pada tahun-tahun awal perkembangannya. Pada awal 1900-an, minuman ini telah tersebar di Asia dan Eropa.

Namun, dorongan besar datang sebagai akibat dari Perang Dunia II ketika Coca-Cola diberikan kepada pasukan Amerika Serikat di luar negeri. Ada lebih dari 60 pabrik pembotolan militer untuk Coca-Cola di seluruh dunia selama masa perang.

Dwight Eisenhower, pada saat itu komandan tertinggi pasukan Sekutu di Eropa, mengaku sebagai penggemar Coca-Cola dan ia memastikan ketersediaan minuman itu di Afrika Utara. Dia juga memperkenalkan minuman ini untuk jenderal Uni Soviet, Georgy Zhukov, yang meminta Coca-Cola dengan warna serupa vodka.

Selama Perang Dingin, Coca-Cola menjadi simbol kapitalisme dan faultline antara kapitalisme dan komunisme, kata Bruce Webster, konsultan merek yang pernah bekerja sama dengan Coca-Cola.

"Coca-cola tidak dipasarkan di Uni Soviet karena ketakutan bahwa keuntungan akan langsung masuk ke kas pemerintah komunis," kata Standage. Pepsi mengisi kesenjangan dan banyak dijual di negara itu.

Ketika tembok Berlin runtuh pada 1989, banyak warga Jerman Timur membeli Coca-Cola, kata Standage. "Minum Coca-Cola menjadi simbol kebebasan."

Coca-Cola tidak berusaha untuk terlibat dalam politik, menurut Webster. Namun, sebagai sebuah merek besar yang terkait erat dengan Amerika Serikat, kadang-kadang Coca-Cola terjerat juga dalam politik.

Pada 2003, pengunjuk rasa di Thailand menuangkan Coca-Cola ke jalan-jalan saat demonstrasi menentang invasi Amerika Serikat ke Irak. Penjualan sementara ke negara ini pun dihentikan.

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, mengancam akan melarang Coca-Cola dan Presiden Venezuela Hugo Chavez baru-baru ini mendesak orang untuk minum jus buah buatan lokal daripada minum Coca-Cola atau Pepsi.

Kira-kira 126 tahun setelah kelahirannya, Coca-Cola masih moncer dari sisi penjualan. Standage menyatakan pasar Coca-Cola sedang berkembang di India, Cina, dan Brasil.

BBC | TRIP B



Terpopuler:
Inilah Daftar 10 Universitas Terbaik di Dunia 2012

Afridi Dipaksa Makan Bak Anjing di Penjara

Baral, Pemutaran Film Kontroversi tentang Islam

Ribut Biaya Operasional Monumen 9/11

Kotak Ikan Selamatkan Pemancing Ini

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X