Indonesia Siap Hadapi Krisis Pangan Global

Indonesia Siap Hadapi Krisis Pangan Global

Seorang anak tengah menggendong adiknya melintas disebuah tambak kering akibat kemarau di daerah Marunda, Jakarta, Rabu (5/9). TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Suswono yakin Indonesia bisa menghadapi krisis pangan global yang diprediksi bakal terjadi dalam waktu dekat. Pernyataan ini disampaikan menyusul beredarnya surat peringatan organisasi pangan dunia (FAO) tentang krisis pangan global akibat musim kemarau panjang di sejumlah negara penghasil komoditas pangan utama.

"Kami optimistis. Belum lama ini, utusan FAO datang. Mereka mengapresiasi langkah-langkah Indonesia menghadapi krisis pangan akibat kekeringan panjang di beberapa negara penghasil pangan dunia," ujar Suswono di Jakarta, Kamis, 13 September 2012.

Suswono menyebutkan salah satu langkah yang diambil pemerintah Indonesia adalah menyiapkan bibit unggul yang mampu bertahan menghadapi perubahan iklim. Langkah lain adalah diversifikasi pangan atau sumber karbohidrat pokok. Suswono mengatakan pangan pokok Indonesia sebenarnya bukan hanya beras. Karena itu, ketika beras susah diproduksi, kekurangan bisa ditutup dengan pangan atau sumber karbohidrat lain.

"Beras ini kemungkinan memang akan jadi persoalan akibat faktor air. Tapi Indonesia kan memiliki banyak pangan pokok atau sumber karbohidrat. Itu yang sedang kami kembangkan," ujar Suswono.

Sebelumnya, organisasi pangan dunia (FAO) mengingatkan Indonesia akan ancaman kekurangan pasokan beras. Penyebabnya, anomali cuaca yang mengganggu ketersediaan air.

FAO juga mengingatkan krisis pangan global yang diperkirakan akan terjadi tahun 2013 karena kekeringan yang melanda sebagian besar negara dunia sepanjang tahun ini. Hal ini akan memicu kenaikan harga jagung dan gandum serta kedelai yang sempat memukul industri pengolahan tahu-tempe di Indonesia.

FAO memprediksi harga pangan akan tetap tinggi dan fluktuatif selama sepuluh tahun ke depan. Untuk itu, organisasi ini meminta negara-negara di dunia menghentikan penggunaan tanaman pangan sebagai bahan bakar nabati (biofuel) sampai masalah ini diselesaikan.

Berbeda dengan krisis pangan tahun 2008 lalu yang terjadi karena permainan spekulan, kali ini krisis pangan terjadi karena suplai terganggu akibat kekeringan di Amerika, Rusia, dan beberapa tempat lain termasuk Indonesia.

ISTMAN MP

Berita Terpopuler:
Hartati Murdaya Tak Takut Walau Ditembak Mati

Tewas Gara-gara Perbesar Penis dengan Silikon

Alasan Indonesia Terpilih Tuan Rumah Miss World

Meriah Halal Bihalal Jokowi di Kelapa Gading

KONI Minta PSSI Djohar Jangan Seperti Anak-anak

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X