New York Times Soroti Pencalonan Joko Widodo

New York Times Soroti Pencalonan Joko Widodo

Cagub DKI Jakarta Joko Widodo makan nasi uduk diruangan kerjanya seusai melakukan doa bersama di posko tim sukses pasangan Jokowi-Ahoki Jl. Borobudur No.22, Menteng, Jakarta Pusat, (19/09). TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO, New York - Pemilihan Gubernur DKI Jakarta rupanya bergaung hingga ke negeri Abang Sam. Harian New York Times dalam sebuah laporannya menuliskan cerita tentang pesta demokrasi warga Ibu Kota.

Dalam artikel yang berjudul "Outsider Breathing New Ideas Into Jakarta Election"--diubah dari judul semula, "Joko Widodo, Breathing New Ideas Into Jakarta Election", media ini membuka tulisan dengan keterkejutan publik atas kemenangan Joko Widodo pada putaran pertama.

Media ini menulis, "Di negara di mana politikus sering kali berasal dari elite yang terkait atau memiliki hubungan dengan mendiang Presiden Soeharto dan militer Joko, dikenal dengan julukan Jokowi, muncul untuk mewakili generasi baru politikus."

Media ini menyoroti tokoh yang akrab disapa Jokowi, seorang eksportir furnitur yang masuk politik untuk pertama kali tahun 2005, yang secara luas dianggap bersih dan mampu memimpin ibu kota di negara yang kental aroma korupsinya--Transparency International memeringkat Indonesia di urutan ke-100 dari 182 negara pada tahun 2011--dan keberhasilannya menata Solo.

Namun, media ini juga mempertanyakan apakah dia bisa meniru keberhasilan di Surakarta, sebuah kota dengan 520 ribu penduduk, jika menang dan memimpin Jakarta, kota berpenduduk 10 juta.

"Jakarta adalah salah satu kota besar dunia, dan mengelolanya tidak sesederhana menuliskan huruf A-B-C," kata Fauzi Bowo, yang juga dikutip dalam tulisan ini. "Anda perlu pengalaman, Anda perlu membuktikan bahwa Anda mampu, Anda perlu hati untuk kota ini."

Menurut New York Times, siapa pun yang memenangkan gubernur akan mengontrol anggaran senilai US$ 4,3 miliar dan mengawasi jantung keuangan dan politik dari salah satu negara yang paling cepat berkembang di dunia dari sisi ekonomi. "Yang membuatnya menjadi kolam madu kecil," kata Douglas Ramage, analis Bower Group Asia, yang menjadi salah satu narasumber tulisan itu. Ia mencatat bahwa kekayaan Jakarta telah membantu menyediakan "bahan bakar" bagi korupsi di Indonesia.

Ramage juga menyoroti kronisme yang beroperasi di bawah permukaan. Ia mengingatkan, akan sulit bagi Jokowi untuk merombak birokrasi model ini dan menekan korupsi.

New York Times menutup tulisan dengan Jokowi yang teguh dalam perjuangannya. Ditanyakan apa artinya jika "gajah" mengalahkan dia pada hari Kamis ini, media ini menulis: Jokowi tertawa dan berkata, "Nah, semutlah yang akan menang," katanya.

NEW YORK TIMES | TRIP B


Komentar (4)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
2372
0
Supaya NKRI ini tetap utuh hilangkanlah kolom Agama di KTP kita. Mungkin hal tsb. bisa dimulai dari Jakarta Baru pimpinan Jokowi A Hok. Rakyat kita khususnya diluar Jawa sering berhantam karena beda agama.
0
2
Beberapa surat kabar luar negeri di asia dan eropa telah ikut menyoroti berjalannya proses demokrasi pemilihan kepala daerah (PILKADA DKI JAKARTA). Mulai dari proses pemilihan pilkada DKI putaran pertama, proses putaran kedua dan sampai pada proses hasil sementara perhitungan Quick Count (perhitungan cepat) yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey independent pada tanggal 20 september 2012 yang menyatakan kemenangan pasangan Jokowi dan Ahok dengan perolehan suara 54,11% atas pasangan Foke dan Nara dengan perolehan suara 45,89% . Hal ini membuktikan bahwa system dan proses berjalannya demokrasi di Indonesia sudah menjadi perhatian dunia internasional dan salah satunya adalah surat kabar harian dari negeri paman sam “New York Times” Kemenangan bapak Jokowi dan Ahok atas lawan politiknya bapak Foke dan Nara tidak hanya membuka mata para elite politik yang berkuasa di Indonesia tapi juga telah membuka mata dunia internasioanal bahwa kedaulatan rakyat Indonesia masih melekat pada sebagian besar masyarakat DKI khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Dan hal ini sekaligus meruntuhkan legitimasi para elite par*SENSOR* politik yang sudah terlanjur dianggap rakus dan kejam. Untuk itu saya sebagai bagian dari anak bangsa ini mengajak saudara sebangsa dan setanah air untuk bersama-sama memperjuangkan kedaulatan rakyat demi terwujudnya keadilan, kesejahteraan yang merata seperti yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945 dengan mengedepankan kecerdasan, hati nurani, kebersamaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan bukan dengan tindakan-tindakan yang berbau Sara, kriminal dan radikal yang akan berakibat pada disintegrasi bangsa dan akan berdampak pada stabilitas nasional NKRI. Mari kita jadikan pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Eka sebagai empat (4) pilar dalam hidup berbangsa dan bernegara, sementara agama kita jadikan sebagai pedoman/keyakinan internal dari masing-masing individu yang harus kita hormati dan kita hargai demi terwujudnya cita-cita para pahlawan bangsa, demi semangat patriotisme kita pada bumi ibu pertiwi sekaligus sebagai benteng negara kita dari intervensi negative bangsa-bangsa asing. “Selamat Dan Sukses” kepada pasangan bapak Joko Widodo dan bapak Basuki Cahaya Purnama yang sudah terpilih lewat demokrasi yang sudah berlangsung dengan aman dan tertib, walaupun masih ada beberapa kecurangan-kecurangan yang terjadi akibat ulah oknum-oknum tertentu. Semoga Allah memberikan kekuatan, kemudahan dan petun juk kepada bapak Joko Widodo dan bapak Basuki Cahaya Purnama dalam mengemban amanat masyarakat DKI Jakarta yang dipimpinnya dan dalam menjalankan tugas negara sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Damailah saudaraku Damailah bangsaku Hidup Kedaulatan rakyat Hidup Jakarta…!!! Salam Adi santoso (adis) adi5antoso@yahoo.com
0
0
Jokowi-Ahok berhasil memecahkan kejenuhan warga Jakarta khususnya n Indonesia umumnya, bukti DKI Jakarta milik kita semua orang Indonesia bukan orang Jakarta atawa Betawi aja. Ahok berhasil menempatkan keturunan Tiongha bukan lagi warganegara ke 2 paling tidak hilangkan diskriminasi.....maju terus....contoh sudah banyak lim swie king, Soe Hok Gie, Kwik Kian Gie dan masih banyak lagi
1
0
Akibat remehkan semut, Gajah terlempar...!!! dan 2014 gajah2 itu pasti mammpuuss!!!

Musik/Film

Wajib Baca!
X