indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Mahasiswa Keperawatan Tolak Film Suster Gepeng

Mahasiswa Keperawatan Tolak Film Suster Gepeng

Ilustrasi. (indonesianfilmcenter)

TEMPO.CO , Makassar - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Profesi Perawat menolak pemutaran film berjudul "Bangkitnya Suster Gepeng". Mereka menilai film tersebut telah melecehkan profesi perawat.

"Perawat merupakan pekerjaan terhormat dan mulia," kata Latif, koordinator aliansi di Makassar, Jumat 21 September 2012.

Menurut dia, kehadiran sejumlah film bergenre horor yang mencantumkan profesi tersebut sebagai judul secara tidak langsung sudah menodai pekerjaan dan citra perawat. "Mereka ini tidak punya etika dan tanggungjawab. Munculnya film itu merupakan salah bentuk eksploitasi terhadap profesi perawat," ujar dia.

Latif membeberkan, beberapa tahun terakhir tidak sedikit film horor yang mencantumkan profesi perawat sebagai judul, seperti "Suster Negsot" dan "Suster Keramas". Ia khawatir, gelar itu malah melekat dan menjatuhkan harga diri individu yang bekerja sebagai perawat.

"Film sebelumnya yang menggunakan nama suster berefek pada profesi perawat secara moral," ujarnya. Meski begitu disadarinya, tidak adanya payung hukum yakni Undang-Undang Keperawatan menjadi salah satu faktor penyebab profesi perawat selalu mendapat diskriminasi.

Film "Bangkitnya Suster Gepeng" rencananya tayang perdana 11 Oktober 2012 di Makassar. Film bergenre horor ini berdurasi 90 menit. Sejumlah artis yang bermain dalam film yang mengklaim mengusung mitos fenomenal ini, diantaranya Ozy Syahputra, Aelke Mariska, Baby Margareth dan Jeny Cortez.

TRI YARI KURNIAWAN

Berita terpopuler lainnya:
Aktris "Innocence of Muslims" Gugat Produsernya
Steven Tyler Ingin Kembali ke American Idol

25 Musisi Jazz Konser Gratis di Bandung

Personelnya Sakit, Duran Duran Batal Konser di AS

Soulfly Bawa Peralatan 2 Ton ke Jakarta

Mudahnya Memboyong Cannibal Corpse dan Soulfly

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X