indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Jalur Puncak II, Puluhan Rumah Terancam Digusur

Jalur Puncak II, Puluhan Rumah Terancam Digusur

Sejumlah kendaraan (kanan) melewati jalur alternatif untuk menghindari kemacetan arus lalu lintas di pintu tol Gadog, Ciawi, Bogor, Jabar, Senin (20/8). ANTARA/Arif Firmansyah

TEMPO.CO, Cianjur - Pembangunan jalur Puncak II yang rencananya akan berlangsung pada 2013 berdampak terhadap penggusuran rumah milik warga di Desa Batulawang, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Puluhan rumah warga harus direlokasi karena dilintasi jalur alternatif tersebut.

Sebagian besar warga antusias dengan adanya program tersebut. Mereka hanya berharapl kontribusi sepadan. Menurut Kepala Desa Batulawang, Muhammad Anwar, pembangunan jalur Puncak II akan melalui Desa Batulawang sepanjang kurang lebih 11 kilometer. Selain menggusur puluhan rumah warga, jalur ini juga "memakan" lahan hak guna usaha (HGU) miliki PT Maspakai Perkebunan Mulia (MPM).

"Saya pernah diajak berembuk mengenai pembahasan proyek jalur Puncak II," kata Anwar di Cianjur, Jumat, 28 September 2012. Sepanjang 2 kilometer proyek ini akan melintasi Kampung Ciobed, Babakan, Sindanglaka, Patapaan, dan Loji. Terdapat kurang lebih 70 rumah yang harus direlokasi.

"Informasi yang kami terima, pemukiman warga yang akan terkena mulai dari Kampung Cidaweung, Cipancuh, Panagan, Rawapeti, Babakan, Ciobes, Patapaan, hingga Loji," kata Anwar.

Beberapa kilometer jalur yang melintasi lahan HGU miliki PT MPM telah diadakan pembebasan. Bahkan, pembangunan tahap pertama sudah selesai, yakni aspal jalan di sebagian areal PT MPM. "Memang pembangunan belum berlanjut lagi. Informasinya pada tahun depan akan kembali dilanjutkan," ujarnya.

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di Kampung Pajagan sampai Ciobed Rp 27 ribu per meter, sedangkan untuk tanah di daerah Loji Rp 128 ribu per meter persegi. "Kami berharap kompensasi pemerintah sesuai dengan NJOP. Jangan sampai dengan adanya proyek ini malah merugikan warga," kata Anwar.

Apit, 55 tahun, warga Kampung Rawapeti, Desa Batulawang, mengaku memiliki lahan seluas 200 meter persegi yang terkena pembebasan. Dia mengaku tidak keberatan jika akan dipakai untuk pembangunan jalur Puncak II. Soalnya, jalan desa kondisinya rusak parah.

"Jalan di Kampung Pajagan sampai Rawapeti sepanjang 2 kilometer belum teraspal dan kondisinya rusak parah. Kami mengharapkan dengan adanya proyek ini bisa ada pembenahan jalan," kata Apit.

Pembangunan jalur Puncak II dianggap Apit memiliki dampak positif, terutama untuk meningkatkan pereknomian warga sekitar. "Selama pemerintah melakukan sosialisasi yang baik terhadap warga, saya yakin pada saat pembebasan lahan nanti tidak akan menuai masalah," ujarnya.

DEDEN ABDUL AZIZ


Berita Lainnya:
Bekas Bos BNN Singapura Paksa Wanita Ini Oral Seks
Tersangka Pembunuh Alawy Ternyata Anak Kos-kosan
Begini Modus Pencurian Bagasi Pesawat
Terduga Pembunuh Alawy Ditangkap di Jalan Affandi
Dianggap Tak Tegas, SBY Panen Pujian di Luar Negeri



Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X