Tokoh di Balik Penghentian Pemutaran Film G30S

Tokoh di Balik Penghentian Pemutaran Film G30S

Juwono Sudarsono. TEMPO/Dwi Narwoko

TEMPO.CO, Jakarta -- Ada tiga tokoh sentral yang berperan dalam dihentikannya pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI. Mereka adalah Marsekal Udara Saleh Basarah, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah, dan Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono.

Mantan Menteri Pendidikan, Juwono Sudarsono, mengatakan, ia pernah ditelepon Saleh Basarah sekitar bulan Juni-Juli 1998. "Beliau keberatan karena film itu mengulang-ulang keterlibatan perwira AURI pada peristiwa itu (30 September)," kata Juwono kepada Tempo, Jumat, 28 September 2012.

Juwono menjabat sebagai menteri pendidikan sejak 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Sebagai menteri pendidikan kala itu, Juwono meminta kepada para ahli sejarah untuk meninjau kembali kurikulum pelajaran sejarah tingkat SMP dan SMA, khususnya yang memuat peristiwa-peristiwa penting. "Saya ingin informasi yang diterima siswa lebih berimbang," ujarnya.

Juwono mencontohkan, pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, misalnya, tidak melulu menonjolkan peran Letnan Kolonel Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Wehkreise II, namun juga membeberkan perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sementara Marsekal Udara Saleh Basarah adalah tokoh yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara pada tahun 1973-1977. Kendati hanya berbicara per telepon dan tidak membuat surat resmi untuk menghentikan pemutaran film G30S itu, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, mengatakan pandangan Saleh patut didengar. "Karena ia orang yang disegani," ujarnya.

Saleh yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya itu meninggal dunia pada 11 Februari 2010.

Sementara Menteri Penerangan saat itu, Yunus Yosfiah, mengatakan, pemutaran film yang bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar tidak sesuai lagi dengan dinamika Reformasi. "Karena itu, tanggal 30 September mendatang, TVRI dan TV swasta tidak akan menayangkan lagi film Pengkhianatan G30S/PKI," ujar Yunus seperti dikutip dari Kompas edisi 24 September 1998.

Sebagai gantinya, lanjut Yunus, Departemen Penerangan bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mempersiapkan sebuah film yang terdiri dari tiga episode. Film berjudul Bukan Sekadar Kenangan itu disutradarai Tatiek Mulyati Sihombing.

RINI K | EVAN (PDAT)

Berita lain:
Edisi Khusus Film Pengkhianatan G 30 S/PKI
G30S, Soekarno Bersembunyi di Halim dan Bogor
Cerita Anak Jenderal D.I. Panjaitan Soal G30S/PKI
Film Pengkhianatan G30S/PKI, Propaganda Berhasilkah?

Saat G30S, Bung Karno Teradang Kepungan Tentara

Kekuatan Film Pengkhianatan G30S/PKI Luar Biasa

Komentar (6)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
1
setuju... gambarnya ud gak bagus
4
7
Saya sudah lama tidak membebarkan propaganda dari Suharto, seolah-olah JANUR KUNING yg bisa mengusir Belanda dari Indonesia.Karena Belanda keluar dari Indoneia berkat hasil diplomasi Indonesia diluar negeri sehingga Belanda ditekan Amerika dan diancam tidak diberi bantuan Marshall Plan bagi negarnya yg hancur lebur akibat Perang Dunia II. Juga bahwa Belanda pergi dari Irian Barat bukan karena keberhasilan KOMANDO MANDALA, tetapi juga hasil diplomasi di PBB sehingga diadakan peblisit.
0
1
Jangan perpanjang kontrovesri ttg peristiwa G30S secara terus menerus. Jadikan ini pelajaran, ambil sisi baiknya, agar generasi penerus bangsa terus menumbuhkan semangat nasionalisme.
1
3
kl mmg alasan penghentian adalah nilai sejarah yg kurang berimbang tdk masalah, tapi ingat jgn menutupi kebenaran sejarah yg ada seburuk apapun kita perlu tahu utk jd bahan pembelajaran
2
6
Alasan yg disampaikan oleh bpk Basarah,Bpk Yunus dan bpk Juwono utk menghentikan penayangan Film G30SPKI sangat bisa diterima...tapi kalau alasanya sekedar Utk memutar balikkan fakta kebencian pada suatu generasi yg dibungkus alasan keadilan yg disampaikan oleh tokoh2 masakini dgn mengaku sejarahwan...dan mereka sebenarnya adalah orang2 yg berdusta.
Selanjutnya
Wajib Baca!
X