MURI Berikan Penghargaan Batik untuk Sekolah

MURI Berikan Penghargaan Batik untuk Sekolah

Siswa sedang membatik baju sekolah yang akan mereka pakai sendiri di SMP Stella Duce, Yogyakarta, (2/10). SMP Stella Duce menerima penghargaan MURI sebagai Sekolah Pelopor Pengguna Batik Karya Sendiri. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Yogyakarta - Yayasan Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan tiga penghargaan sekaligus dalam peringatan Hari Batik Nasional di Yogyakarta, Selasa, 2 Oktober 2012. Para pihak yang menerima penghargaan itu adalah kerabat keraton Yogyakarta GBPH Prabukusumo, Yayasan Tarakanita, serta SMP Stella Duce 1 Yogyakarta.

Ketiganya memperoleh penghargaan atas upayanya mengembangkan karya batik, khususnya batik tulis di lingkungan sekolah. Selain itu, penghargaan juga diberikan atas kepeloporan penggunaan batik untuk seragam sekolah bagi siswa, bukan sekedar untuk karya seni.

"Bukan hanya di Indonesia, tapi kepeloporan penggunaan karya batik untuk seragam sekolah. Ini mungkin yang pertama ada di dunia," kata Manajer MURI, Sri Widayati, usai menyerahkan penghargaan yang diterima Ketua Komite Sekolah SMP Stella Duce 1, GBPH Prabukusumo, dan Kepala Sekolah SMP Stella Duce 1, Seraphine Listyawati.

Sri menuturkan, pihak sekolah tergolong tekun mengembangkan ekstrakurikuler membatik sejak 1985, lalu menggunakannya sebagai seragam sekolah setiap hari Jumat mulai tahun lalu. Dengan demikian, tim MURI pun menilai proses yang dilakukan sekolah ini layak untuk masuk rekor dunia.

"Dari perundingan kami, terobosan dan ketelatenan sekolah ini tak hanya pantas masuk Museum Rekor Indonesia, tapi juga dunia," katanya. MURI, kata dia, tak sembarangan memberikan penghargaan rekor dalam prose batik itu. Muri telah menelusuri jejak kreatif para siswa di sekolah itu. Salah satunya dari cara pembuatan batik saat mereka di sekolah.

Kepala Sekolah SMP Stella Duce 1, Seraphanie Listyawati, mengatakan seni batik tak hanya dipelajari para siswa, tapi juga oleh karyawan dan guru. "Tidak hanya murid, tapi juga guru, kepala sekolah, petugas cleaning service, serta para orang tua murid," kata dia.

Ketua Panitia Kegiatan Frans Daryanto mengatakan dalam penyerahan rekor MURI itu siswa juga menyerahkan 10 baju batik buatan mereka selama sebulan terakhir untuk diberikan pada sejumlah tokoh. Di antaranya untuk Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X yang dibuat oleh seorang siswa kelas III SMP Stelladuce 1 Sheilla. R yang berwarna coklat dan bergambar Monumen Tugu Yogyakarta.

Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Kadarmanto Baskara Aji, juga memakai batik karya Cintya Kumalasari warna merah muda motif kupu kupu. Ada juga adik tiri Sultan Prabukusumo yang memakai batik bermotif Hobo (logo Keraton) warna biru muda. Selain itu, juga ada baju batik yang diserahkan untuk lima pemimpin kepala daerah di kabupaten kota DI Yogyakarta. Sultan sendiri berhalangan hadir dlam penyerahan itu sehingga diwakili kerabat Keraton, yakni Prabukusumo.

PRIBADI WICAKSONO

Terpopuler

Aksi Selamatkan KPK Meluas

Menko Polkam Minta Djoko Susilo Penuhi Panggilan

TNI Diminta Terlibat dalam Politik Kenegaraan

Presiden SBY Diminta Tuntaskan Tragedi 1965

Hartati Limpahkan Kesalahan ke Anak Buahnya

Sultan Tak Ingin Pelantikannya Dibuat Mewah




Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X