indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Al Chaidar: Kelompok Mujahidin Tantang Densus

Al Chaidar: Kelompok Mujahidin Tantang Densus

Mantan Ketua Mantiki III Jamaah Islamiah Natsir Abbas (kanan), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai, dan Pengamat Teroris Negara Islam Indonesia Al Chaidar. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO , Jakarta: Pengamat terorisme Al Chaidar menduga pelaku pembunuhan dua anggota Kepolisian Sektor Poso Pesisir adalah kelompok teroris pimpinan Abu Wardah alias Santoso alias Abu Yahya. Al Chaidar yakin surat tantangan dari Komandan Mujahidin Indonesia Timur untuk perang terbuka dengan Detasemen Khusus Antiteror 88 asli.

"Itu bukan hoax, mereka memang menantang Densus," kata Al Chaidar, Rabu, 17 Oktober 2012. Dalam surat yang beredar di internet, Komandan Mojahidin Indonesia Timur Syaikh Abu Wardah alias Santoso menantang Densus 88 untuk perang terbuka. Surat itu disampaikan dalam tiga bahasa.

Al Chaidar menyatakan polisi memang dijadikan target kelompok teroris ini. Beberapa kali anggota kelompok ini tewas ditembak dan ditangkap Detasemen Khusus Antiteror 88. Akibatnya, muncul dendam untuk membalas.

Bagi kelompok itu, menurut Al, polisi khususnya Densus 88 sudah beraksi kelewatan dan perlu dihentikan dengan sebuah perlawanan. Kelompok teroris ini memang secara khusus mengincar polisi seperti yang pernah terjadi dalam penyerangan pos polisi dan penembakan polisi di Poso.

Dua anggota Polsek Poso Pesisir, Brigadir Sudirman dan Brigadir Satu Andi Sapa, menghilang sejak 8 Oktober 2012. Polisi dan keluarga kehilangan komunikasi saat keduanya sedang melaksanakan giat Pulbaket ke Desa Taman Jeka, Poso, yang diduga sebagai basis Jamaah Anshorut Tauhid pimpinan buron Santoso, sekitar Gunung Potong.

Pencarian juga dilakukan sejak 10 Oktober lalu bersama beberapa tim seperti Danrem, Detasemen Khusus Anti Teror 88, Brigadir Mobil, tim Penjinak Bahan Peledak, dan Pemerintah Daerah Poso. Operasi penyisiran dengan sandi Sadar Maleo ini menemukan hasil pada 16 Oktober 2012, ketika dua mayat anggota polri tersebut ditemukan dalam sebuah lubang di pinggir desa. Keduanya dibunuh dengan kejam.

FRANSISCO ROSARIANS

Berita lain:
Kronologi Anggota TNI AU Pukul Wartawan

Jaringan JAT Dituduh Culik Polisi di Poso

Tersangka Baru Hambalang, Busyro-Samad Berbantahan

Polisi Gelar Operasi Besar-besaran di Poso

Seratusan Wartawan Protes Kekerasan oleh TNI

Komentar (4)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Awishnu harus tahu bahwa polisi sekarang melebihi kopassus TNI
1
0
kewibawaan negara akan pudar jika membiarkan kelompok2 macam ini hidup... kelompok2 semacam ini tidak punya hak hidup di bumi nusantara ini.
0
0
Nana Sukarna harus tahu bahwa MOMENTUM sekarang dimana Polisi terpuruk, tidak cocok untuk mengajukan diri sebagai calon gubernur.Malah kariernya di Polisi bisa habis begitu saja.
2
2
Densus 88 alat negara, nantang Densus = nantang negara....jangan mewek ya kalo tiba2 yang turun tangan malah Kopassus....
Wajib Baca!
X