Pengungsi Syiah 'Ogah' Pakai Bilik Asmara

Pengungsi Syiah 'Ogah' Pakai Bilik Asmara

Dua balita bersama sejumlah pengungsi lainnya pengikut aliran Syiah tertidur pulas di tempat pengungsian di lapangan tenis indoor, Sampang, Madura, Jatim, Jumat (30/12). Sekitar 200 pengungsi berhasil dievakuasi pihak keamanan setelah pesantren beraliran Syiah di tiga lokasi dan dua desa, dibakar massa pada Kamis (29/12). ANTARA/Saiful Bahri

TEMPO.CO, Sampang - Di Gelanggang Olahraga (GOR) Sampang, tempat pengungsian warga Syiah, Sampang, Madura, terdapat sebuah kamar. Di dalamnya ada kasur lengkap dengan seprei dan bantal teronggok rapi.

Kamar berukuran 2 X 4 meter persegi itu terletak di bagian depan gedung GOR Sampang. Ketika dibuka, udaranya agak pengap. Di pintu tertulis "Bilik Asmara". Ruangan ini dibuat bagi para pengungsi yang hendak menyalurkan hasrat seksualnya.

Di gelanggang olahraga itu, ratusan penganut Syiah Sampang mengungsi setelah terjadi kerusuhan Sunni-Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kabupaten Sampang, 26 Agustus 2012.

Kepada Tempo, sejumlah pengungsi ogah berhubungan intim di kamar itu. "Sekarang banyak yang lebih penting dipikirkan ketimbang seks," kata seorang pengungsi Syiah, Marnoto, Senin, 22 Oktober 2012.

Menurut dia, kebanyakan pengungsi masih memikirkan tentang belum jelasnya penyelesaian kasus Sunni dan Syiah di Sampang serta rencana pemulangan warga Syiah ke rumah mereka di Dusun Nangkernang. "Kalau situasinya begini, mana enak berhubungan?" ujarnya.

Rukoyyah, pengungsi wanita Syiah, mengatakan tidak masalah baginya tidak melayani suami selama berada di pengungsian. Tidak berhubungan badan selama dua bulan, bagi Rukoyyah, bukan soal berat.

Ia punya pengalaman lebih berat, yakni 10 tahun ditinggal suami bekerja ke Malaysia. Selama itu pula ia tidak berhubungan badan. "Saya kepikiran ingin cepat pulang ke rumah," katanya.

Pemuka Syiah Sampang di pengungsian, Iklil Almilal, mengaku sudah sering bersosialisasi kepada warga Syiah agar tidak perlu malu dan sungkan masuk ke Bilik Asmara. Bahkan, kata dia, kapan pun kamar itu bisa digunakan karena kunci kamar sudah tidak lagi dipegang Iklil. 

"Tapi semuanya menolak. Katanya lebih baik memikirkan penyelesaian masalah kami ketimbang seks," katanya.

MUSTHOFA BISRI

Berita terpopuler lainnya:
Surya Paloh dan Edward Rebutan Gunung Emas

Tiga Jam Menanti Jokowi
Pengamat Sarankan Jokowi Delegasikan Wewenangnya
Kunci Hidup Sukses ala Dahlan Iskan

Penambang Liar Berebut Emas dengan Surya Paloh

Jokowi Dapat ''Lampu Hijau'' Bangun Kampung Susun 

Begini Sosok Terduga Teroris yang Tantang Densus

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X