Kasus Lampung Selatan, Tokoh Adat Sepakat Berdamai

Kasus Lampung Selatan, Tokoh Adat Sepakat Berdamai

Seorang petugas kepolisian berjaga di depan rumah yang dibakar massa di Desa Balinuraga Kecamatan Waypanji, Lampung Selatan, (30/10). Sebanyak 192 rumah dirusak dan dibakar massa saat bentrokan dengan warga Kalianda dan 14 orang tewas. ANTARA/Kristian Ali

TEMPO.CO, Jakarta - Para tokoh adat Lampung Selatan dan masyarakat Bali melakukan pertemuan dengan bantuan mediasi oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Mereka sepakat untuk berdamai dan mengakhiri konflik yang mengakibatkan 14 orang tewas dan ratusan rumah dibakar. "Dalam pertemuan itu mereka sama-sama membahas apa yang menjadi akar persoalan konflik yang berujung bentrok itu," kata Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said di ruang kerjanya, Selasa, 30 Oktober 2012.

Dalam pertemuan tertutup yang dihadiri oleh tokoh masyarakat Bali, tokoh adat Lampung Selatan, dan Forum Masyarakat Adat Lampung itu, semua pihak bersepakat untuk menahan diri. Dalam dua hingga tiga hari ke depan, Joko berharap ada format perdamaian yang melibatkan semua pihak. "Acara perdamaian itu akan digelar di sebuah tempat di mana ribuan orang bisa hadir dan saling memaafkan serta melakukan rekonsiliasi, serta akan dihadiri Gubernur Bali dan Lampung," kata Joko.

Para tokoh adat kedua belah pihak yang bertikai sebenarnya sudah menandatangani perdamaian di hadapan bupati, polisi, dan TNI usai bentrok di desa Napal, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, pada 23 Januari 2012 lalu.

Bentrokan dipicu oleh rebutan lahan parkir antara warga Kota Dalam dan Dusun Napal, Sidomulyo, yang menyebabkan 63 rumah dibakar dan 23 lainnya dirusak.

Saat ini, sebanyak 2100 warga Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, telah dievakuasi ke Sekolah Polisi Negara Kemiling, Bandar Lampung. Mereka ditampung di aula sekolah. "Sekarang kami fokus menangani pengungsi agar kondisi mereka pulih," kata Ketua Parisade Hindu Darma Bandar Lampung, Putu Suwarte.

Warga Balinuraga hingga saat ini masih terus mendatangi SPN Kemiling dengan menggunakan kendaraan milik polisi. Mereka diungsikan sejak kerusuhan meletus. Diperkirakan masih banyak warga yang tersisa dan bersembunyi di dalam desa yang kini luluh lantak.

Data dari Polres Lampung Selatan menyatakan sebanyak 14 orang tewas, 9 luka parah, 166 unit rumah dibakar massa, 26 unit rusak berat, serta 11 sepeda motor dan 2 kendaraan roda empat turut dibakar.

Sepuluh korban tewas belum bisa diidentifikasi karena kondisinya hancur. "Kami masih terus menyisir semak belukar untuk menemukan korban akibat bentrokan kemarin," kata Kepala Polres Lampung Selatan Ajun Komisaris Besar Tatar Nugroho.

NUROCHMAN ARRAZIE



Berita Terpopuler:
Sekali Rapat, DPR Minta Lebih dari Rp 1 Miliar

KPK Mulai Bidik Pimpinan Badan Anggaran DPR

Sekretaris MA Mengaku Pengusaha Sarang Burung

Anggaran Militer Juga Terkena Kutipan DPR

Firman Utina Cs Sempat Lawan 12 Pemain Australia


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X