indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Produsen Sapi Terbesar Tangerang Terancam Tutup

Produsen Sapi Terbesar Tangerang Terancam Tutup

Pedagang daging sapi. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Tangerang - Perusahaan penggemukan dan peternakan sapi terbesar di Tangerang, PT Tanjung Unggul Mandiri (TUM), terancam tutup karena semakin menipisnya stok sapi. Swasembada daging sapi lokal yang digalakkan pemerintah diiringi dengan pembatasan impor sapi belum bisa berjalan karena perusahaan sulit mendapatkan sapi hidup, sementara permintaan sangat tinggi.

“Hukum ekonominya tidak berjalan. Permintaan tinggi, tapi stok terus menipis,” ujar Direktur PT Tanjung Unggul Mandiri, Sanko Hasan, saat ditemui Tempo di kandang TUM Tanjung Burung, Teluknaga, Kabupaten Tangerang, akhir pekan lalu.

Sanko mengatakan, semakin hari, populasi sapi di kandang mereka menurun hingga 70 persen. Kondisi ini, kata dia, memaksa perusahaan memangkas 200 dari 500 karyawannya dalam dua tahun terakhir ini. Stok sapi hidup di kandang PT TUM mencapai 8.300 ekor. Namun yang bisa dipotong hanya sekitar 25 persen. Padahal, dengan kandang seluas 50 hektare, seharusnya digunakan untuk kapasitas 35 ribu ekor sapi.

General Manager PT TUM Heroe Sinbad mengatakan, penjualan sapi hidup setiap hari dari PT TUM mencapai 70-80 ekor, yang diserap oleh delapan agen yang menjadi mitranya. Kemudian pasokan sapi itu dipotong di tiga RPH, yaitu Selapajang, Petir, dan Ciputat.

"Idealnya, setiap hari kami mendapat pasokan sekitar 40 ekor sapi, tapi untuk dapat 20 ekor per hari sangat sulit," ucapnya. Secara bisnis, kata Sanko, usahanya sudah mengalami penurunan. "Tapi, ibarat mandi kepalang basah, kami sekarang mencoba bertahan dan berharap jangan ada PHK lagi.”

Menurut Heroe, ancaman untuk menutup operasional penggemukan dan peternakan sapi yang berusia puluhan tahun itu sudah terasa sejak beberapa tahun terakhir ini. Pembatasan sapi impor yang dilakukan secara bertahap dan sulitnya mendapatkan sapi lokal membuat populasi sapi di perusahaan itu terus mengalami penurunan.

Menurut Heroe, pada 2008, pihaknya sempat mendapatkan kuota 82 ribu ekor sapi per tahun. Pada 2009, 81 ribu ekor, dan pada 2010 berkurang hingga 50 persen, yaitu 42 ribu ekor per tahun. Pada 2011, 52 ribu ekor sapi per tahun, dan pada 2012 hanya 21 ribu ekor. “Sekarang populasi yang ada hanya sekitar 30 persen dari kapasitas kandang,” katanya.

JONIANSYAH

Berita lain:
Harga Emas Melonjak ke US$ 1.750 Per Troy Ounce

Menteri Mari Elka Tampil di Ultah Kaskus

Ini 8 Aturan Bank Indonesia yang Baru

Penumpang Citilink Telantar

BI Umumkan Delapan Peraturan Baru

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X