Pemain Asia Tenggara yang Berlaga di Eropa

Pemain Asia Tenggara yang Berlaga di Eropa

Pemain Sepak Bola Tim Nasional Indonesia Andik Vermansyah dalam sesi foto peluncuran seragam terbaru Timnas di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, (12-11). TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.CO , Kuala Lumpur: Sampai berakhirnya babak grup Piala AFF 2012, masa depan bintang muda tim nasional Indonesia, Andik Vermansyah, tak jua jelas. Klubnya, Persebaya 1927, belum mengajukan kontrak baru. Klub-klub luar yang pernah tertarik kepadanya juga belum memberi kabar lagi, baik dari DC United (Amerika Serikat) maupun dua tim besar Portugal, Benfica dan FC Porto.

Peluang cemerlang dari Liga Portugal justru membayangi penyerang muda Malaysia yang juga bermain pada Piala AFF kali ini, Ahmad Fakri Saarani. Januari tahun depan, pemain berusia 23 tahun itu akan dijajal selama tiga hari oleh Atletico Sport Clube Reguengos. Bila performanya mengesankan, Fakri bakal dikontrak untuk jangka 3,5 tahun oleh klub Divisi II Portugal itu.

Bila sukses, Fakri akan menjadi bahan cerita terbaru dari petualangan para pemain kawasan Asia Tenggara di Eropa. Dia meneruskan kiprah rekannya, Nazmi Faiz, 18 tahun, yang sejak Mei lalu sudah terdaftar sebagai anggota klub Divisi I Portugal, SC Beira-Mar, meski di tim U-19.

Apakah dua pemain muda itu menjadi pemain Malaysia pertama yang bermain di Eropa? Ternyata tidak. Seperempat abad sebelumnya, seorang gelandang bernama Lim Teong Kim sudah menancapkan kakinya di Liga Jerman dengan bergabung bersama Hertha Berlin. Hebatnya, pria yang kini berusia 49 tahun itu, sejak 2001, direkrut sebagai anggota kru kepelatihan tim junior Bayern Muenchen.

Untuk pemain sekawasan, Paulino Alcantara boleh dikatakan sebagai “monumen” pertama pemain Asia Tenggara di Eropa. Striker kelahiran Filipina ini menjadi bagian penting bagi sejarah awal klub besar Barcelona pada awal abad XX. Lionel Messi pun harus berkaca padanya bila menyangkut urusan mencetak gol.

Eropa, harus dikatakan, bak kiblat sepak bola saat ini. Para pemain terbaik dunia berbondong-bondong ke Benua Biru untuk mengejar gengsi, uang, dan pengalaman menimba ilmu dalam kompetisi yang ketat. Tak ketinggalan pemain dari Asia Tenggara.

Bintang-bintang muda, seperti Nazmi Faiz dan Fakri—juga Andik bila beroleh peluang yang sama—bisa menembus Eropa berkat laporan para pemandu bakat kepada klub masing-masing. Hal ini berbeda dengan keberadaan empat pemain muda Indonesia—Yandi Sofyan, Alfin Tuassalamony, Yericho Christiantoko, dan Samsyir Alam—di CS Vise. Di luar soal bakat dan kemampuan, mereka juga mendapat kemudahan karena saham mayoritas klub Divisi II Belgia itu dimiliki keluarga Aburizal Bakrie.

Hal yang sama dilakukan pengusaha muda Indonesia, Erick Thohir, yang memiliki saham mayoritas di klub Liga Amerika Serikat, DC United. Berkat kebijakan Erick, Andik sempat merasakan berlatih bersama DC United. Erick kini berencana merekrut tiga pemain muda usia di bawah 20 tahun untuk “dicangkokkan” ke DC United.

Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, pernah melakukan hal serupa ketika menjadi pemilik Manchester City. Tiga pemain muda Thailand dia undang untuk berlatih di Stadion City selama beberapa pekan pada November 2007. Salah satunya Teerasil Dangda, striker yang, menurut pelatih Thailand, Winfried Schafer, adalah salah satu penyerang terhebat Asia saat ini. Selasa lalu, penyerang berusia 24 tahun itu mencetak hat trick ke gawang Myanmar.

Soal “cangkok-mencangkok” pemain dalam program percepatan pembinaan sepak bola—orang-orang yang tak sepakat menyebutnya sebagai pembinaan instan—Indonesia adalah jagonya. Pada 1986-1991, pernah dibentuk tim PSSI Garuda II, di mana para pemainnya lantas disebar di berbagai klub. Salah satu pemainnya adalah Nilmaizar, yang bergabung dengan klub kenamaan Republik Cek, Sparta Praha, selama enam bulan pada 1991. Nil sekarang menjadi pelatih tim nasional Indonesia.

Pada 1993, lagi-lagi PSSI membentuk kesebelasan untuk dicangkokkan pada kompetisi Italia, namanya PSSI Primavera dan PSSI Baretti. Berkat program ini, striker Kurniawan Dwi Julianto dan gelandang Bima Sakti sejenak bisa merasakan berlatih dan bermain, masing-masing di klub Sampdoria (Italia) dan Helsingborgs IF (Swedia).

Di luar mereka, ada nama-nama semacam Arthur Irawan dan Rigan Agachi. Dua orang ini berhasil menembus Eropa berkat perjuangan sendiri, yaitu bergabung dengan klub Eropa sejak junior. Arthur kini tercatat sebagai pemain junior Espanyol. Sementara Rigan terpental dari persaingan di Liga Belanda setelah sempat direkrut tim junior PSV Eindhoven dan FC Utrecht. Musim lalu Rigan bermain untuk Arema Indonesia.

Selain itu, terdapat pria-pria keturunan Indonesia, baik blasteran maupun murni berdarah Indonesia. Sebagian besar terdapat di Belanda. Sebagian memutuskan menjadi warga negara Indonesia—seperti Irfan Bachdim, Raphael Maitimo, dan Tonnie Cusell. Sebagian lagi memutuskan membela tim nasional negara yang membesarkannya, seperti Giovanni van Bronckhorst. Mereka sejenis dengan para pemain tim nasional Filipina sekarang yang kebanyakan lahir di Eropa.

BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA



Terpopuler:
Andik Akan Dicium Artis Norwegia Bila Cetak Gol

Suporter Malaysia Hadang Pendukung Indonesia di Bukit Jalil

Video Malaysia Hina Indonesia Diduga Hanya Dubbing

Ultras Malaya, Gerbang Tempur Tim Malaysia

Pemain Timnas Piala AFF Jalan Tertunduk Menuju Bus

Video Penghinaan Malaysia pada Indonesia Diragukan

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul =

Musik/Film

; $foto_slide_judul =

Musik/Film

Wajib Baca!
X