Genjring Akrobat, Sirkus Khas Kota Cirebon

Genjring Akrobat, Sirkus Khas Kota Cirebon

Genjring Akrobat. Disparbud.jabarprov.go.id

TEMPO.CO, Bandung - Lantunan selawat dengan suara melengking perempuan paruh baya asal Cirebon, Lilis Kasiri, menjadi syair pembuka rombongan anak perempuan naik panggung membawa gunungan Wayang. Tabuhan rebana dengan suara genjring dipadu alat musik dog-dog, goong, dan kecrek, nyaring terdengar mengiringi penampilan tari Rudat asal Cirebon.

Rudat adalah tradisi peninggalan Sunan Kalijaga, yang digunakan untuk syiar Islam. Kini, tarian Rudat dimodifikasi dengan gerakan lentik jemari, goyangan bahu, dan entakan langkah kaki sebagai pembuka atraksi genjring akrobat dari grup kesenian Genjring Putri Kuda Kecil, Desa Bayalangu Kidul, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, di Taman Budaya Jawa Barat.

"Sejak zaman para wali, kesenian Cirebon digunakan sebagai penyebaran agama Islam. Salah satunya tari Rudat dengan iringan genjring dan puji-pujian pada Nabi Muhammad dari kitab Al-Berjanji," kata Karyadi, suami Lilis Kasiri, pemimpin grup kesenian Genjring Putri Kuda Kecil, pada Tempo, Sabtu, 22 Desember 2012, di Bandung.

Menurut Karyadi, jika penyebaran Islam disertai tarian jadinya tidak menjenuhkan, enak didengar, betah dilihat, dan cepat dipahami.

Seusai penampilan tari Rudat oleh rombongan anak perempuan, barulah atraksi sirkus genjring akrobat dimulai. Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian yang awalnya hanya diramaikan dengan alat musik rebana atau disebut genjring itu, kini dikreasikan dengan goong, melodi, dung-dung, organ tunggal, jaipong, hingga aksi akrobat.

Atraksi dimulai dengan tiga anak perempuan tidur telentang, dengan kaki menghadap langit-langit, sambil melempar-lemparkan balok dari bahan tripleks hanya dengan mengunakan telapak kaki. Mereka kemudian saling memindahkan balok satu dengan balok lainnya secara bergantian. Sesekali mereka membolak-balik balok 360 derajat hanya dengan telapak kaki.

Iringan musik genjring kian memberi semangat pada grup kaum Hawa ini. Balok diganti dengan seorang anak kecil yang duduk bersila di atas telapak kaki wanita paruh baya, yang tidur telentang beralas bantal. Anak kecil tadi lantas diangkat dan diputar menghadap kiri, kanan, depan, dan belakang.

Menurut Karyadi, untuk bisa melakukan atraksi genjring akrobat seperti itu, perlu latihan yang disiplin dalam jangka waktu yang tidak sebentar. "Kalau mau jago, ya, harus latihan mentahun-tahun karena ini nonsihir dan nonmistis. Modalnya itu latihan yang tekun," kata dia seusai penampilan genjring akrobat di Taman Budaya Jawa Barat.

Kemunculan genjring akrobat pada tahun 1940-an juga tak lepas dari penyebaran Islam di Cirebon. Dulu, genjring ini kerap dimainkan oleh para santri dengan iringan musik dua genjring berukuran besar. Kemudian, setelah muncul musala, bertambah empat buah genjring berukuran kecil. Sekitar 1960-an, digunakan empat genjring kecil, kemudian ditambah satu buah dog-dog. "Itu melambangkan, dalam sehari, salat ada lima waktu," kata Karyadi.

Untuk tetap melestarikannya, tahun 1964, seniman Cirebon bernama Kasbula, yang juga mertua Karyadi, mendirikan sebuah grup kesenian Genjring Putri Kuda Kecil. Grup tersebut menampilkan atraksi keterampilan keseimbangan tubuh para perempuan dari segala umur.

Kini, kesenian tradisi tersebut telah diwariskan pada Lilis Kasiri, anak perempuan Kasbula. "Genjring akrobat yang diperagakan oleh para perempuan ini adalah salah satu cara untuk mengenalkan kesenian tradisional pada generasi muda. Kalau yang melakukannya perempuan, kan jadi tambah unik," kata Lilis Kasiri.

Semakin malam, atraksi dari Genjring Putri makin menegangkan. Nasiti, 43 tahun, kembali menahan seorang anak yang bermain hula hoop di atas balok. Kali ini ditambah dengan dua anak kecil dan dua orang dewasa yang menempelkan badannya di samping balok. Belum puas dengan aksi tersebut, Nasiti lantas menjajal hasil latihan akrobatnya sejak umur 4 tahun. Ia mengangkat sepeda motor yang ditumpangi dua orang. Riuh penonton semakin ramai ketika Nasiti berhasil mengangkat sepeda motor beserta penumpangnya hanya dengan telapak kaki dalam waktu kurang dari satu menit.

Robi Prasetya, seorang penonton asal Bandung, mengaku takjub dengan atraksi dari para genjring putri tersebut. "Ini benar-benar menegangkan, saya baru pertama kali melihat atraksi sirkus yang kental dengan nuansa tradisi seperti ini. Ada akrobatnya, juga ada rebananya, berasa nonton sirkus tapi ala Indonesia," kata dia.

RISANTI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X