Nama Jonan Identik dengan Transformasi di KAI

Nama Jonan Identik dengan Transformasi di KAI

Dirut PT. KAI, Ignasius Jonan. TEMPO/JAcky Rachmansyah

TEMPO.CO , Jakarta: Ia suka bicara blak-blakan sebagaimana kebanyakan orang Jawa Timur. Dengan pembawaannya yang terbuka itu, Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, berhasil mendobrak kultur perusahaan pemegang monopoli angkutan kereta yang selama ini cenderung feodal. “Gaya kepemimpinannya yang egaliter membawa suasana segar ke perusahaan,” kata Wimbo Hardjito, Direktur Komersial PT Kereta Api Indonesia, pekan lalu.

Nama Jonan kini memang identik dengan proses transformasi PT Kereta Api. Ia membawa perusahaan yang semula rugi menjadi untung. Jonan diangkat menjadi orang nomor satu perusahaan kereta itu pada Februari 2009 ketika perusahaan merugi Rp 83,4 miliar. Persis di akhir 2009, PT KAI sudah mengantongi untung Rp 153,8 miliar. Tahun ini keuntungan perusahaan diperkirakan mencapai Rp 300 miliar.

Ketika pertama kali bergabung dengan KAI, Jonan mengatakan, “Hanya satu perubahan yang saya inginkan: mengalihkan (arah) organisasi ini dari product-oriented ke customer focused.” Ia ingin seluruh jajaran Kereta Api berusaha membuat pelanggan lebih bahagia. Di masa lalu, kata dia, perubahan itu seperti tak dibutuhkan. Toh, penumpang tetap menjadikan kereta api sebagai angkutan favorit. Namun, Jonan ingin semua itu berubah.

Perubahan ini bisa dilihat dalam banyak fasad. Salah satunya stasiun. Sejumlah stasiun dipermak sampai kinclong. Stasiun Gambir tampil lebih nyaman dan bersih. Salah satu caranya adalah dengan membebaskan Gambir dari kereta Commuter Jabodetabek. Stasiun ini hanya melayani kereta jarak jauh eksekutif. Penentuan operator taksi resmi di stasiun memunculkan kenyamanan bagi pengguna kereta.

Tempo juga melihat perbaikan di sejumlah stasiun, terutama di Jabodetabek. Lambat-laun pedagang liar yang menyesaki stasiun menipis. Stasiun Sudirman menjadi yang terbaik dari 60 stasiun di Jabodetabek. Jonan berambisi membuat semua stasiun seperti Sudirman dengan biaya Rp 15 miliar per stasiun. “Untuk 60 stasiun butuh Rp 1 triliun selama 2-3 tahun,” ujarnya. Untuk meningkatkan semangat kompetisi, ia mengadakan lomba stasiun.

Terobosan lain: menjelang Lebaran 2012, identitas penumpang harus sama dengan identitas di tiket dan tak ada pengantar di sekitar kereta. Ia juga membatasi penumpang kereta api. Saat ini kereta api jarak jauh, termasuk kereta ekonomi, hanya menjual tiket sebanyak jumlah tempat duduk. Di masa lalu, penumpang harus berebut masuk kereta, terutama pada akhir pekan atau musim libur.

Jonan menjadi salah satu dari enam "CEO BUMN Pilihan Tempo 2012". Tulisan selengkapnya, bisa dibaca di Majalah Tempo Edisi 23 Desember 2012.

TIM TEMPO

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
7
0
Dalam banyak sisi, bapak dirut bertangan besi memindahkan personal PT KAI ke luar pulau. Yang secara logika bukan saja akan menghukum personal, tapi yang lebih buruk menghukum anak dan isterinya yang akan menderita....... Sementara di sisi lain, seorang kepala stasiun besar tiap hari hanya datang mancing ke kolam, bermewah-mewah dengan mobil avanza baru hasil dari korupsi uang jurnal dan uang K3, tidak pernah dihukum apa-apa......Malah hidupnya makin mewah, asal bisa menjilat pantat atasan......... Ternyata ketegasan pak dirut tak lebih dari firaun bertangan dingin..........hiyyyyyy???????
Wajib Baca!
X