indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Berbahaya, Gunung Ijen Masih Dikunjungi Turis

Berbahaya, Gunung Ijen Masih Dikunjungi Turis

Kawasan penambangan belerang kawah Gunung Ijen, Banyuwangi. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Banyuwangi-Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur III kerepotan membendung wisatawan ke Gunung Ijen yang berstatus siaga sejak 24 Juli 2012. "Kami masih mengevaluasi untuk mencari cara yang efektif," kata Kepala BKSDA Jawa Timur III , Sunandar Trigunajasa, Selasa, 8 Januari 2013.

Balai Konservasi sebenarnya telah menutup pendakian Gunung Ijen sejak status gunung itu berstatus siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga merekomendasikan agar radius 1,5 kilometer dari puncak harus steril dari manusia. Tapi wisatawan tetap mendaki.

Sejak Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mempermudah akses jalan dan menggencarkan promosi Gunung Ijen awal Desember 2012, jumlah wisatawan semakin banyak. Pemerintah setempat mencatat, turis yang mengunjungi gunung setinggi 2.368 meter itu pada 2011 sebanyak 8.785 orang. Kini, diperkirakan, wisatawan meningkat hingga 1,5 kali lipat.

Menurut Sunandar, seharusnya Pemerintah Banyuwangi lebih gencar memberikan informasi bahwa kondisi Gunung Ijen masih berbahaya bagi pendakian. Balai Konservasi sejauh ini berusaha mencegah wisatawan mendaki Ijen dengan menambah petugas jaga dari 5 orang menjadi 10 orang serta meminta bantuan polisi dan instansi lain.

Ketua Forum Peduli Bencana Indonesia Banyuwangi, Zaenal Aris, mengatakan semua pihak harus terlibat mencari solusi. Bila setiap instansi berjalan sendiri-sendiri, dia pesimistis masalah itu bisa diselesaikan dengan baik. "Pencarian solusi bersama itu harus segera dilaksanakan."

Sebelumnya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Achmad Wiyono, meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengendalikan kunjungan wisatawan ke Gunung Ijen.


IKA NINGTYAS

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X