Ribuan Lilin untuk Korban Kolonialisme Belanda

Ribuan Lilin untuk Korban Kolonialisme Belanda

Seribu Lilin di kaki patung Jan Pieterszoon Coen di desa Hoorn, Belanda mengenang korban kolonialisme (4/1). Foto: Yayasan KUKB

TEMPO.CO, Hoorn- Ribuan lilin menyala di kaki patung Jan Pieterszoon Coen di desa Hoorn, Belanda, akhir pekan lalu. Lilin-lilin itu dinyalakan untuk memperingati korban kolonialisme di Indonesia, Suriname, Antillen Belanda, Afrika Selatan dan bekas jajahan Belanda lainnya.

"Jumat lalu, tepat 150 tahun perbudakan dihapuskan di koloni Belanda," ujar Ketua Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda Jeffry Pondaag dalam siaran persnya, Senin (14/1). "Tapi sekarang kita hidup dalam masa suara korban kolonialisme Belanda tenggelam oleh orang-orang (Belanda) yang tanpa malu-malu ingin menjadi bangga dengan sejarah negara mereka dan praktek perbudakan sistematis, pembunuhan dan pihak perampokan yang dianggap 'normal untuk waktu itu' atau sebagai 'kerusakan kolateral' Zaman Keemasan."

Berbeda dengan Jerman yang seusai Perang Dunia kedua membabat habis tanda kekejaman kolonial mereka, Belanda masih merawat monumen penjajahannya. Coen, lahir tahun 1587 di Hoorn, ialah Gubernur Jenderal Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang meluluhlantakkan Jayakarta pada 1619. Dua tahun berikutnya ia memerintahkan pembantaian penduduk Kepulauan Banda, yang memakan korban sekitar 15.000 pria, wanita, dan anak-anak. Pria yang dijuluki Murjangkung karena tinggi badannya itu juga memperbudak warga Cina di pulau-pulau produsen pala.

Patung Coen di desa kelahirannya itu sempat rusak pada tahun 2011, namun lantas diperbaiki dan didirikan kembali tahun ini. Pria yang mati di umur 42 tahun akibat kolera itu sejak lama dianggap sebagai pahlawan nasional "Zaman Keemasan" negeri kumpeni. Menurut Jeffry, seharusnya patung Coen bersama monumen kolonialisme lainnya dimuseumkan dan tak dipajang sebagai penghargaan atas kekejaman masa penjajahan.

Pada tanggal 4 Mei, Belanda tiap tahun memperingati warganya yang tewas di Perang Dunia kedua. Ironisnya, tak lama setelah bebas dari penjajahan Nazi Jerman, pemerintah Belanda langsung mengirim pasukan ke Indonesia untuk menjajah kembali. Jeffry berharap pada peringatan tahun ini, Belanda bersikap bijak dan mencopot semua monumen kolonialisme yang ada.

BUNGA MANGGIASIH (BELANDA)

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
; $foto_slide_judul = ; $foto_slide_judul =
Wajib Baca!
X