Ratusan masyarakat mengantri di stan-stan yang menyediakan bermacam-macam jenis jenang di Kawasan  Koridor Ngarsopuro, Solo, Jumat (17/2). Para pengunjung bebas memilih aneka jenang yang disukai secara cuma-cuma dalam rangka untuk memeriahkan peringatan HUT Ke- 267 Kota Solo ini. Tempo/Andry Prasetyo

Ratusan masyarakat mengantri di stan-stan yang menyediakan bermacam-macam jenis jenang di Kawasan Koridor Ngarsopuro, Solo, Jumat (17/2). Para pengunjung bebas memilih aneka jenang yang disukai secara cuma-cuma dalam rangka untuk memeriahkan peringatan HUT Ke- 267 Kota Solo ini. Tempo/Andry Prasetyo

Berbagai Jenang Langka Akan Terhidang di Acara Ini

TEMPO.CO, Surakarta - Komunitas Pecinta Jenang Solo akan menggelar Festival Jenang di Koridor Ngarsapura, Ahad mendatang, 17 Februari 2013. Mereka menyiapkan 15 ribu porsi jenang yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Penggagas Festival Jenang, Slamet Raharjo, mengatakan bahwa Kota Solo memiliki berbagai jenis jenang, masakan sejenis bubur. "Beberapa di antaranya bahkan sudah punah," katanya, Selasa, 12 Februari 2013. Salah satunya adalah jenang pelok, yaitu jenang yang dibuat dari biji buah mangga muda.

Menurut Slamet, masakan tradisional jenang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Solo. "Masakan jenang selalu hadir dalam kegiatan ritual masyarakat di Solo," katanya. Dia mencontohkan, pada masa lalu masyarakat menghadirkan jenang putih dan jenang merah saat upacara kelahiran.

Festival Jenang itu diselenggarakan untuk memperkenalkan lagi tradisi masakan jenang kepada masyarakat. Selain itu, mereka akan mempromosikan warung-warung yang masih menjual makanan dari tepung itu. "Jenang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomis yang tinggi," kata Slamet.

Hingga saat ini, sudah ada 100 peserta yang berminat untuk mengikuti festival tersebut. Slamet menargetkan acara itu akan diikuti oleh 150 perserta. "Masing-masing akan membagikan 100 porsi jenang secara gratis," katanya. Jenang akan disajikan dalam sebuah takur, yaitu daun pisang yang dibentuk menjadi semacam mangkok.

Slamet mengatakan bahwa festival itu digelar untuk menyambut Hari Jadi Kota Surakarta ke-268. Menurutnya, makanan tradisional itu memang cukup dekat dengan sejarah berdirinya kota tersebut.

Berdirinya Kota Surakarta diawali dengan perpindahan kerajaan dari Keraton Kartasura menuju Keraton Surakarta. "Perpindahan tersebut dilakukan dengan prosesi kirab yang sangat besar," katanya. Pada saat itu, para peserta kirab membawa sejumlah perlengkapan, termasuk 18 macam jenang.

AHMAD RAFIQ

Berita terpopuler lainnya:

Kenapa Sopir Angkot Ajak Annisa Putar-putar
Ini Daftar Pemegang 'Sprindik' Anas di KPK

IPB Pecat Mahasiswa Muncikari Seks Online

Anas Bakal Tersandung Mobil Harrier?

Ini Jejak Anas di Hambalang

Paus Benediktus Mundur Karena Uzur

Pengemudi U10 Kasus Annisa Ternyata Sopir Tembak

Laskar Pelangi Jadi Buku Best Seller Internasional

Angkot Bakal Dihapus Demi Keamanan