Langkitang dan Pensi, makanan khas dari Danau Maninjau. TEMPO/Febrianti

Langkitang dan Pensi, makanan khas dari Danau Maninjau. TEMPO/Febrianti

Langkitang, Camilan Bercangkang dari Maninjau

TEMPO.CO, Jakarta - Danau Maninjau di Agam, Sumatera Barat, yang bening bagai kaca, menyimpan sumber protein yang berlimpah: ikan, udang, kerang, dan siput; yang diolah dengan begitu lezat oleh masyarakat di selingkaran danau.

Bila berwisata ke sana, banyak jenis kuliner dengan hasil tangkapan nelayan dari Danau Maninjau yang disajikan. Yang populer seperti palai rinuak atau pepes ikan rinuak--jenis ikan yang amat kecil sebesar korek api yang berenang di permukaan danau. Lainnya ada gulai ikan sasau dan ikan baung.

Dan jangan lupa camilannya, langkitang pedas dan tumis pensi. Langkitang ini adalah salah satu jenis siput air tawar yang hidup di danau, sungai, hingga muara. Cangkangnya hitam dan memanjang, sebesar kelingking. Langkitang ini diolah dengan cara digulai kering dengan santan kental dan cabai hijau sehingga kuahnya tinggal sedikit.

Bumbu dan santannya semua meresap ke dalam cangkang langkitang, yang ujungnya sudah dipotong. Jadi rasanya gurih dan lezat dengan aroma gulai yang wangi dan tidak berbau lumpur. Rasa pedasnya juga hanya selayang karena menggunakan cabai hijau sehingga warna kuahnya juga kuning kehijauan. Pas untuk camilan karena tidak terlalu pedas.


Pemotongan ujung cangkang ini bertujuan agar siput ini bisa disedot. Bila tidak, jangan harap bisa sukses menyedot siput ini dari cangkangnya. Cara makannya juga unik. Langkitang yang sudah digulai ini disedot, dan ini perlu beberapa kali latihan, tapi tidak sulit. Langkitang ini dijual dalam baskom besar dan ditakar dengan gelas, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Satu gelas hanya Rp 3.000.

Camilan bercangkang lainnya adalah pensi atau remis. Ini juga kerang air tawar yang banyak terdapat di Danau Maninjau. Tergeletak di dasar perairan danau yang dangkal. Pensi ini bentuknya seperti kerang mini, cangkangnya dua dan simetris berwarna cokelat. Ukurannya hanya 1 hingga 2 sentimeter.

Makanan dari pensi ini biasanya hanya ditumis dengan bumbu ringan, seperti bawang, daun bawang, dan daun seledri, dengan kuah berlimpah. Rasa kuahnya segar dan khas karena pensi ini banyak mengandung zat kapur dari cangkangnya.

Membuat tumis pensi ini juga gampang. Setelah bumbu ditumis, ditambahkan air hingga menggelegak, lalu langsung dimasukkan pensi dengan cangkangnya. Tunggu beberapa saat hingga kedua cangkang terbuka, pensi bisa langsung diangkat. Memakannya lebih gampang dari menyedot langkitang. Tinggal diemut dengan cangkang hingga dagingnya yang putih keluar atau diambil daging pensinya dengan tangan dan dimakan bersama kuahnya yang segar.


Tidak hanya di Maninjau, gulai langkitang dan pensi dari Maninjau ini juga dijual di banyak pasar tradisional di Sumatera Barat, seperti di Bukittinggi dan di Pasar Raya Padang, karena cukup populer sebagai camilan. Biasanya langkitang dan tumis pensi ini dimakan ramai-ramai saat bersantai bersama teman dan keluarga.

Salah seorang penjualnya adalah Azizah di Pasar Raya Padang. Tiap hari ia menjual dua baskom besar langkitang dan sebaskom besar pensi. "Pelanggannya sudah ada, jadi tiap hari selalu habis. Langkitang dan pensi yang saya jual ini dari Danau Maninjau. Penjual lainnya ada yang membawa pensi dari Danau Singkarak dan langkitang dari muara di Pasaman," katanya.

FEBRIANTI

Berita Lainnya:
Pengakuan Kolega Maharani Suciyono: 60 Juta/Bulan!
Ayam Kampus: Beda Harga Beda Rasa
Meteor Rusia Sempat Dikira Pesawat Jatuh
Doa Status BBM Anas Sama Dengan Noordin M Top
Jokowi Presiden Diteriakkan Massa Rieke-Teten
Anas Mundur Bisa Dianggap Pahlawan Demokrasi