Teroris Dalang Video Kekerasan Densus?

Teroris Dalang Video Kekerasan Densus?

Cuplikan video kekerasan Densus 88 yang beredar di Youtube. (youtube.com/capture)

TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Polri mencurigai pelaku teror sebagai dalang dari kemunculan video kekerasan yang dilakukan Detasemen Khusus Antiteror. Polri menduga ada upaya pelemahan Densus dalam kemunculan video itu di dunia maya.

"Tentu pelemahan Densus ini menguntungkan teroris," kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Sutarman, saat ditemui di kantornya, Rabu, 6 Maret 2013.

Dia pun berharap agar Densus tak mudah terjerembap dalam jebakan yang sengaja dirancang kelompok teror. Sebab, jika sampai Densus dilemahkan, Sutarman khawatir Polri kecolongan serangan bom para pelaku teror. "Hasil operasi di Poso kemarin saja, kami temukan 23 rangkaian bom siap ledak," kata dia.

Sutarman pun berjanji akan mengusut siapa pihak yang membuat dan menyebarkan video kekerasan itu. Tujuannya tentu untuk mengetahui apa motif utama pembuatan dan penyebaran video itu.

Berdasar penelitian anak buahnya, video itu merupakan gabungan dari dua video yang berbeda waktu dan lokasi kejadian. Bagian pertama video merupakan kejadian tahun 2012 di Poso. Sedangkan bagian kedua video adalah penangkapan Wiwin di Tanah Lunto. Adapun video di Poso tahun 2012 merupakan upaya penindakan hukum terhadap pelaku teror penembakan empat anggota polisi di Poso.

Dalam aksi itu, Sutarman mengakui ada pelanggaran hukum yang dilakukan anggota Densus. Namun, dia menyebutkan, 16 anggota Densus pelaku kekerasan itu sudah ditindak. Baik secara disiplin maupun secara hukum pidana.

Sedangkan untuk video sambungan adalah video penangkapan Wiwin. Menurut Sutarman, Wiwin adalah pelaku mutilasi terhadap tiga orang siswi sekolah menengah kejuruan di Tanah Lunto, 22 Januari 2007. Selengkapnya artikel kontroversi Densus.

INDRA WIJAYA

Berita Lainnya:

Informasi Densus 88 Lebih Lengkap daripada BIN


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X