Bagaimana Cara Berjalan Manusia Purba?

Bagaimana Cara Berjalan Manusia Purba?

Seorang pelajar melintas di depan papan yang menggambarkan proses evolusi manusia dalam pameran Sosialisasi dan Publikasi Museum Manusia Purba Sangiran di pusat perbelanjaan Mall Grand City, Surabaya, Kamis (11/6). Berbagai fosil yang ditemukan di Situs Purbakala Sangiran ini merupakan ajakan agar masyarakat mencintai museum sebagai ruang edukasi. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Liverpool - Cara berjalan manusia purba diperdebatkan. Sebuah penelitian terbaru oleh tim ilmuwan Universitas Liverpool menyebutkan jejak kaki fosil tidak dapat dijadikan petunjuk pasti tentang bagaimana hewan purba berjalan, termasuk pada nenek moyang manusia purba.

Di masa lalu, para paleontolog dan antropolog mengasumsikan kedalaman jejak berkorelasi dengan tekanan untuk menciptakannya. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Journal of the Royal Society Interface mengungkapkan bahwa tumit cenderung membuat lekukan yang lebih dalam, bahkan ketika kaki memberikan tekanan yang sama besar.

"Kita seharusnya tidak menjadikan bentuk jejak untuk mencerminkan cara berjalan makhluk hidup yang membuat jejak itu," kata Karl Bates, seorang peneliti biomekanika di Universitas Liverpool di Inggris, Kamis, 21 Maret 2013.

Kesalahan asumsi ini, menurut Bates, mengakibatkan beberapa kesimpulan tentang cara berjalan tegak pada nenek moyang manusia perlu dipertimbangkan ulang.

Jejak kaki fosil selama ini dijadikan salah satu acuan untuk menentukan cara berjalan hewan purba dan manusia purba. Misalnya, jejak kaki berumur 3,6 juta tahun di Laetoli, Tanzania, yang mengungkapkan keberadaan makhluk pejalan kaki bipedal pertama, Australopithecus afarensis, spesies yang sama dengan fosil kerangka perempuan berjuluk Lucy.

Menguraikan jejak purba untuk merekonstruksi keberadaan nenek moyang manusia memang menjadi urusan yang rumit. Untuk membuktikan kaitan jejak kaki dan cara berjalan manusia purba, Bates dan rekan-rekannya menciptakan model komputer untuk mensimulasikan tekanan dari berbagai ukuran kaki di berbagai jenis tanah.

Mereka kemudian meminta 10 orang responden untuk berjalan di sepanjang pantai di Brighton, pantai selatan Inggris. Jejak kaki para responden lantas diukur. Para responden selanjutnya diminta berjalan di treadmill yang dilengkapi alat pengukur tekanan kaki untuk mengetahui korelasi kedalaman jejak dengan tekanan saat berjalan.

Kedua metode--simulasi komputer dan tes nyata--menemukan kecenderungan yang sama. Bates mengatakan bagian yang berbeda pada kaki membuat lekukan dengan ukuran yang berbeda. Bahkan ketika telapak kaki menginjak tanah dengan jumlah tekanan yang sama.

"Tumit adalah penekan yang lebih efektif daripada kaki depan dan jari kaki," kata dia seperti dikutip laman LiveScience. Semakin lunak permukaan tanah yang dilewati, semakin dalam tekanan yang ditimbulkan oleh tumit.

Bates mengatakan penelitian ini masih diterapkan untuk mengetahui cara berjalan manusia purba. Selanjutnya, metode yang sama akan digunakan untuk menganalisis jejak kaki dinosaurus dan hewan lainnya yang sudah punah. Tujuannya adalah untuk mengungkap cara berjalan mereka yang sesungguhnya.

LIVESCIENCE | MAHARDIKA SATRIA HADI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X