indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Ika Menekuni Panahan karena Penasaran

Ika Menekuni Panahan karena Penasaran

Ika Yuliana Rochmawati. TEMPO/Arnold Simanjuntak

TEMPO.CO, Jakarta- Ika Yuliana Rochmawati, 24 tahun, perempuan asal Bojonegoro, Jawa Timur ini, menarik tali busur dengan anak panahnya, menahan napas, membidik sasaran, kemudian melesatkan anak panah itu. Hal itu berkali-kali dia lakukan di Lapangan Panahan, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.


Ika tak memedulikan panasnya sengatan mentari siang itu. Dia hanya ingin anak panahnya melesat tepat sasaran, karena falsafahnya bagaimana menjadi lebih baik setiap waktu. “Kalau gagal, saya selalu ingin tahu bagaimana caranya memperbaiki diri. Kalau sudah bagus, saya juga terdorong bagaimana tetap mempertahankan kondisi itu,” tutur pemanah putri andalan Indonesia dalam persiapan menghadapi SEA Games ke-27 di Myanmar, Desember mendatang.


Saat ditanya targetnya pada pesta olahraga antarnegara-negara Asia tenggara itu, Ika tak mau sesumbar. Dia hanya mengatakan ingin bertanding sebaik mungkin untuk mendapai hasil terbaik pula.


Para pelatih dan Pengurus Pusat Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PP Perpani) menargetkannya merebut medali emas nomor recurve perorangan putri. Target ini sesuai dengan hasil yang dia capai pada Grand Prix Panahan di Bangkok, 9-15 Maret 2013 lalu.


“Lawan saya berat-berat. Tapi saya berjuang total sehingga bisa memenangkan pertandingan,”� kata Ika saat ditemui Tempo di sela-sela latihan di siang bolong itu. Ika mengaku menekuni olahraga panahan secara total.


Peraih emas SEA Games 2011 ini mengaku mengenal olahraga panahan sejak berusia 12 tahun. Ibunyalah yang mengenalkan dia pada olahraga itu. �Awalnya ia mengaku hanya coba-coba. “Daripada menganggur di rumah dan cuma menonton televisi, apa salahnya mencoba,”� ujarnya. �”Setelah mencoba, saya keterusan karena penasaran.”�


Selain meraih meraih emas pada SEA Games 2011, Ika juga berhasil menjadi juara pada SEA Games 2007 dan 2009. Pada 2007, ia memperoleh emas untuk nomor recurve beregu putri dan individu putri. Sedangkan pada SEA Games 2009 ia memperoleh satu emas di nomor recurve beregu putri.


Di arena yang lebih tinggi, Olimpiade London 2012. Ika sempat masuk 16 besar. Ia mengalahkan unggulan ketiga asal Cina, Yuting Fan, dalam babak eliminasi untuk masuk 32 besar.


Namun, Ika mengaku perjalanan prestasinya tak selalu mulus. Ia mencontohkan pada 2008 hingga 2009. Saat itu pada Olimpiade 2008 di Beijing, Cina, Ika langsung kalah di pertandingan pertama. Ika juga sempat tak mendapat jatah uji tanding dengan mengikuti kejuaraan internasional di luar negeri. Ia mengaku hal itu membuatnya ciut dan hampir menyerah.


“Saya lalu berpikir. Masa karier saya berakhir dengan prestasi buruk?” katanya mengenang. Berkat dorongan Endah Sulistyowati, pelatih yang menanganinya sejak awal bergelut dengan panahan, Ika bangkit kembali. “Beliau yang terus mendampingi saya.”�


Memutuskan untuk tetap menekuni panahan, Ika mendapat pertanda baik pada 2011. “Saya mendapat tiket ke Olimpiade 2012,”� kata dia. Sejak saat itu, Ika bersemangat lagi menjadi atlet panahan.


“Prestasi Ika tak lepas dari disiplin putri sulung dari 3 bersaudara itu. �Dia anak yang patuh,”� kata Endah. Menurut dia, keberhasilan seorang atlet juga ditentukan oleh mental yang terbentuk dari kejuaraan-kejuaraan internasional yang dia ikuti. Endah optimistis Ika bisa berprestasi baik di SEA Games 2013 nanti.


GADI MAKITAN

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X