indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Asal-usul Peluru di Penjara Cebongan Sleman

Asal-usul Peluru di Penjara Cebongan Sleman

Petugas Brimob bersenjata laras panjang berjaga di depan Lapas IIB Cebongan, kabupaten Sleman, Yogyakarta (23/3). Segerombolan orang bersenjata laras panjang telah menyerbu Lapas Cebongan dan membunuh 4 orang tersangka pembunuhan Sertu Santoso. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Jakarta - Tragedi penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, pada Sabtu, 23 Maret 2013, meninggalkan barang bukti selongsong peluru. Kepolisian meyakini itu proyektil dari kaliber 7,62 milimeter.

"Sebanyak 31 selongsong dan 19 proyektil yang ditemukan di lokasi kejadian menunjukkan ukuran peluru 7,62 milimeter," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Yogyakarta, Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti. (Baca juga: Drama 14 Jam Serangan Penjara Cebongan Sleman dan Operasi Buntut Kuda Penjara Cebongan Sleman)

Pihak militer langsung menyatakan, peluru yang biasa digunakan pada senjata laras panjang itu bukanlah milik TNI. "Setahu saya, itu sudah bukan standar TNI lagi," kata Kepala Badan Intelijen Nasional Marciano Norman di Istana Negara. Dugaan beberapa kalangan, peluru kaliber 7,62 mm biasa digunakan untuk senapan AK-47 buatan Uni Soviet.

Namun belum tentu juga pihak TNI tidak menggunakan senjata dengan kaliber 7,62 mm. Pada Rencana Pengadaan Alutsista Melalui Pinjaman dalam Negeri Tahun 2010-2014, Mabes memesan lebih dari 40 ribu butir kaliber 7,62 mm untuk senapan sniper/runduk. Tidak itu saja, TNI Angkatan Udara juga mencantumkan rencana pengadaan hampir satu juta butir kaliber 7,62 mm.

Peluru kaliber 7,62 mm pun sudah diproduksi oleh Pindad. Menurut situs Pindad, kaliber 7,62 mm disebut mempunyai keistimewaan: andal dan akurasi. Pada situs tersebut, kaliber 7,62 mm dengan kode MU11-TJ tidak saja digunakan untuk senapan AK-47. Tapi juga dapat digunakan untuk senapan Sabhara Rifle Cal. 7.62 x 45 mm/SB1. Senapan ini merupakan varian dari jenis SS1 yang banyak digunakan oleh TNI dan Polri. Cek info penyerangan profesional penjara Cebongan, Sleman, di sini.

EVAN | PDAT | SUMBER DIOLAH TEMPO | PINDAD

Topik Terhangat: Kudeta || Serangan Penjara Sleman || Harta Djoko Susilo || Nasib Anas

Berita Lainnya:

Firasat Buruk Pemindahan Tahanan Lapas Sleman
Penyerangan LP Sleman Terencana, Ini Indikasinya
BIN: Senjata Penyerang LP Sleman Bukan Standar TNI

Siapa Tak Trauma Lihat Serangan Penjara Sleman

Komentar (10)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
2
0
Hik, hik, hik ..... April move kambing hitamnya 1 orang militer matek di tempat mabuk2 an, 4 orang preman matek di rumah lembaga institusi. Arah dan tujuannya ....... reka2 sendirilah ....... Yang jelas negara ini sepertinya sudah nggak ada yang memimpin ........ semuanya berjalan sendiri2 tak ada yang ngontrol ........ Menurutku si tukang eksekusi tesebut termasuk tolol dan berpikiran cupet.... kenapa pemabantaian dilakukan dirumah tahanan negara bukan dijalanan? Sama saja ngilani dadane si ..... hik, hik, hik ......... ah malu ah .........
0
0
Aneh juga katanya diberondong 31 peluru, tapi yang kena di badan korban cuman dikit, dan apa betul cuma selosong kaliber 7,62mm yang ditemukan di TKP ??????? Dan apa benar dieskesusi dalam satu sel, dapat data dari mana ? Wartawan jgn gegabah membuat berita, dalami dulu data dan fakta lapangan supaya jangan terbangun opini yang menyesatkan....
0
0
Logiknya, yang anti TNI bukan Tempo, tetapi oknum yang kebutulan wartawan Tempol. Tempo kan gak bisa nulis....Iya nggak???? MEMBUNUH DIBALAS MEMBUNUH, menurut agama kan sudah syah bukan???? Kok dibikin rame.... Lagian, misalnya ke-4 orang itu gak ditembak mati, pasti juga akan dibantai dan dibakar oleh warga Yogyakarta yang sudah gerah dan siap bertindak!!!!!!. Preman NTT itu harus dilenyapkan dari Bumi Mataram.....
5
1
jangan salahkan TNI ataupun POLRI, yg jelas kejadian itu sesuai dg Hukum ALLAH yg tercantum baik dlm Bibel maupun Al Quran yaitu QISOS.
0
6
copas dari salah satu forum menanggapi berita ini, si doi expert dalam hal balistic. Saya baca petikan berita yg di cantumkan diatas ttg kaliber 7.62mm. Saya cuma bisa geleng2 kepala. Ini Polisi kok ya bicara spt orang awam. Atau memang pura2 tidak tahu? Di FB formil sudah saya cantumkan sedikit ulasan ttg berbagai ammo yg sama2 menggunakan nama "7.62mm" namun sebenarnya berbeda. Kita bisa narrow down jenis 7.62mm yg dipakai dengan melihat berat projectile tsb. Typically, utk M2-ball type (30.06 utk Garand) menggunakan 152 grain projectile. Sedangkan 7.62x51 yg dipakai NATO umumnya menggunakan 147-145 grain. Sedangkan 7.62x39 yg dipakai AK47 biasanya berkisar antara 122 to124 grain. Disamping itu ukuran diameter dari "7.62mm" ini juga berbeda antara NATO version dan Russian version Utk NATO, 7.62mm = 0.30 inches (land-to-land) dan 0.308" (groove-to-groove) dengan diameter projectile typically 0.308". Sedangkan utk Russian version 0.30" land-to-land, dan 0.312" groove-to-groove. Jadi diameter projectile utk 7.62 versi Russia biasanya antara 0.310 to 0.312". Pakai caliper measurement dengan precision 0.001" bisa kok dibedakan. Mosok iya saya yg sipil seperti upil ini bisa membedakan projectile 7.62mm tapi yg aparat seolah-olah bingung gitu sih? Apa ndak malu mas dan mbak? Atau sengaja mau bikin masyarakat bingung? Membelokkan opini ke arah tertentu? Sebab di berita itu disebutkan 7.62mm pesanan TNI ... padahal kemungkinan besar yg dipesan TNI adalah 7.62x51 NATO. monggo tanggapi wartawan tempo.
Selanjutnya
Wajib Baca!
X