indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Penyerangan LP Sleman, 'Hidup Kopassus'

Penyerangan LP Sleman, 'Hidup Kopassus'

Kapolres Sleman, AKBP Hery Sutrisman mengkoordinir petugas kepolisian untuk berjaga di depan Lapas IIB Cebongan, kabupaten Sleman, Yogyakarta (23/3). TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Yogyakarta - Temuan penyidik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Mimin Dwi Hartono soal 31 tahanan di penjara Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang dipaksa bertepuk tangan oleh eksekutor, memang cukup menggemparkan.

Tepuk sorai itu dilakukan 31 tahanan usai seorang eksekutor menembak mati empat tahanan titipan Kepolisian Daerah Yogyakarta yang berada di satu sel dengan mereka di Blok A5 (Anggrek Nomor 5).

Namun, sumber Tempo di penjara Sleman mengungkapkan pada Selasa, 26 Maret 2013, ada kesaksian lain yang tak kalah mengejutkan. Saat ke-31 tahanan itu bertepuk tangan, menurut sumber, ada salah seorang tahanan yang meneriakkan, "Hidup Kopassus!"

Teriakan tersebut keruan saja membuat eksekutor naik pitam. "Siapa yang teriak? Saya tembak kamu!" kata sumber ini menirukan hardikan sang eksekutor. Untunglah, itu hanya gertakan semata.

Segerombolan orang bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, pada Sabtu dinihari, 23 Maret 2013. Kelompok ini diperkirakan berjumlah 15 hingga 20 orang. Namun, hanya satu orang yang menjadi ekskutor.

Empat tahanan yang ditembak mati adalah Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, Adrianus Candra Galaja alias Dedi, Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu (Adi).

Mereka diduga dihabisi terkait dengan kasus pembunuhan bekas anggota Komando Pasukan Khusus TNI AD, Sersan Satu Santoso, di Hugo's Cafe, Yogyakarta, tiga hari sebelumnya.

Kepala Penerangan Kopassus Mayor Susilo berjanji akan menindak tegas anggotanya jika terlibat penyerangan Penjara Cebongan. Hingga kini, Kopassus mengklaim belum ada bukti keterlibatan mereka. "Kami menunggu hasil penyelidikan kepolisian," katanya.

TIM TEMPO

Komentar (22)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
3
Gak bela siapa2... tapi yg satu ini menarik juga dibaca. Baca dulu gan aq juga baru baca https://www.facebook.com/notes/idjon-djanbi/pelaku-penyerangan-lp-sleman-adalah-aparat-kepolisian/101576636705313
0
2
penembakan empat orang di Lapas cebongan, Sleman merupakan tanda bahwa Indonesia yang dikenal sebagai negara hukum kini tinggal kenangan saja. Kemegahan hukum telah dihapus oleh beberapa orang yang mengatasnamai kebenaran memperkosa hukum. Hukum di Indonesi kelihatannya hanya berpihak pada mereka yang mempunyai kedudukan dan memiliki uang,,,,di manakah keadilan hukum?? Apakah kematain keempat orang di LAPAS Cebongan pertanada bahwa hukum di Indonesia telah mati??
26
9
Hendrik Angel Sahetapy, Adrianus Chandra Galaja, Yohanes Juan, Gamaliel Rohi Riwu ditembak mati oleh seorang eksekutor yang pengecut di blok A5. Keempat saudaraku ini berasal dari NTT, sebuah wilayah yang kecil, namun tidak untuk diremehkan. Kiranya kasus Tibo cs merabik hati Anda untuk tidak mendiamkan siapa yang membunuh dan berani tegakan bahwa hukum di Indonesia tidak memilah-milah. Kita mendoakan usaha Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk mengusut kasus ini hingga tuntas dan semua pihak lain yang berwajib.
23
2
Eman Soge saya menemukan ketidakberesan dalam kasus pembunuhan keempat saudaraku dari NTT. Pertama, peluru yang dipakai eksekutor adalah berasal dari tubuh militer, kedua : pembunuhan tersebut diduga berhubungan dengan pembunuhan bekas anggota Kopssus (Sersan Satu Santoso). Jadi, agak kaburnya pembunuhan ini semacam suatu balas dendam, dan menjaga citra kopassus dengan semakin memperburuk citra kopassus. Diminta dengan tegas untuk mengusut tuntas kasus ini. Mendiamkan kasus ini menggambarkan bangsa ini sedang miskin kepribadiannya oleh karena itu bangsa ini wajar untuk pecah.....
24
7
Dikiranya hebat bisa membunuh dengan cara militer seperti itu. Padahal yang dibunuh juga toh rakyat sendiri. Biarpun tahanan itu betul-betul kriminal, gak selayaknya dieksekusi seperti itu. Tawanan perang yang jahat saja gak boleh dieksekusi sembarangan, apalagi tahanan yang belum jelas salahnya. Kalau mereka tahu kelakuan itu benar, ngapain harus pake penutup muka. Kalo yakin benar dan tidak banci, tunjukkan batang hidung kalian. Pantesan aja mereka jadi bulan-bulanan sniper di Papua. Mungkin digigit nyamuk hutan saja teriak-teriak kayak banci.
Selanjutnya
Wajib Baca!
X