indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Wajah-wajah yang Bercerita

Wajah-wajah yang Bercerita

Sketsa-sketsa awal karya para peserta yang ikut dipamerkan dalam Pameran Hasil Workshop Cat Air bersama Surya Wiryawan alias Yoyok Komo di Kedai Kebun Forum (KKF), Yogyakarta, Rabu (13/3). TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Makassar-Sudah tiga tahun ini Suriadi Mappangara, 56 tahun, merekonstruksi wajah raja-raja dan bangsawan Bugis-Makassar. Puluhan sketsa wajah hasil karyanya ditempatkan di ruangan sempit berukuran 2 x 5 meter. Ada yang dibingkai lalu digantung, ada juga yang masih dalam buku gambar.


Sebenarnya, ada 100-an wajah yang sudah direkonstruksi ulang oleh dosen jurusan ilmu sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin ini, dari wajah raja-raja Kerajaan Gowa-Tallo, Bone, Soppeng, hingga Luwu, termasuk tokoh bangsawan Bugis-Makassar. Sebut saja Sawerigading, raja pertama Kerajaan Luwu; Tumanurung, Raja Bone 1330-1370; Karaeng Patingalloang; dan Colli’ Pujie.


Impian Suriadi sebenarnya sangat sederhana. Ia merekonstruksi wajah para pembesar dari tanah Sulawesi ini agar pelajaran mengenai masa lalu tidak hanya disajikan dalam bentuk tulisan, tapi juga dalam bentuk grafis. “Adanya bantuan grafis akan lebih memudahkan orang untuk belajar sejarah karena selama ini banyak yang mengeluhkan tidak enak belajar sejarah tanpa gambar,” katanya saat ditemui di kampus Unhas Tamalanrea, Kamis lalu.


Ya, Suriadi ingin mengenalkan sejarah masa lalu melalui sketsa wajah-wajah ini. Metode sketsa rekonstruksi wajah biasa digunakan oleh kepolisian untuk mengenali wajah pelaku kejahatan. Polisi menggunakan sumber yang melihat secara langsung wajah orang yang dimaksud.


Namun sketsa yang dibuat oleh Suriadi tidak sesederhana itu. Inspirasinya bukan dari kesaksian orang yang melihat atau mengenal, melainkan dari teks-teks masa lampau yang dipelajari selama bertahun-tahun, dari kitab lontara hingga teks-teks lain yang menceritakan karakter yang akan dibuat.


Dalam merekonstruksi wajah, menurut Suriadi, harus ada ciri kuat dari setiap karakter yang hendak digambar. Meski tidak bisa menjamin tidak adanya bias dalam hasil karyanya, Suriadi menjamin bias tersebut bisa diminimalisasi karena dikerjakan oleh sejarawan yang memiliki dasar kuat melalui penelitian yang mendalam.


Meski telah melakukan penelitian secara mendalam, Suriadi kerap dicibir. Banyak pihak yang mengatakan gambar yang dibuat Suriadi tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak ilmiah. “Bisa saja teks-teks yang saya gunakan itu bohong, kata mereka,” ucapnya.


Selain gambar wajah, Suriadi merekam kejadian-kejadian penting dalam bentuk sketsa, di antaranya gambar Tunipalangga (Raja Gowa II) sedang jatuh sakit saat berperang di Bone sehingga diangkut pulang. Ada pula gambar 10 ribu warga Bone yang dipesan oleh Karaeng Karunrung untuk membangun parit di Gowa.


Dalam mengerjakan sketsa wajah tersebut, Suriadi tidak bekerja sendiri. Sang istri, Nahdiyah, dan seorang lainnya ikut dalam pengerjaan sketsa wajah tersebut. Orang itulah yang bertugas menggambar, sedangkan Suriadi beserta istrinya bertugas mempersiapkan riset dan data sebagai bahan acuan untuk menggambar sketsa wajah yang hendak digambar.


Pengerjaan sebuah sketsa wajah tak terlalu lama. Suriadi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk mencari dan mengumpulkan bahannya. Lalu, untuk menggambarnya, hanya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Menurut Suriadi, yang memberatkan hanya biaya yang harus dikeluarkan, yakni sekitar Rp 500 ribu per gambar. Semua biaya tersebut ditanggulangi Suriadi sendiri, tanpa bantuan pihak lain.


Usaha Suriadi dalam membuat sketsa yang bercerita tentang sejarah ini tak sia-sia. Dosen ilmu sejarah dari Universitas Kebangsaan Malaysia, Noordin Husain, datang langsung ke Makassar untuk melakukan studi banding dan melihat langsung apa yang dikerjakan Suriadi. Menurut dia, hal tersebut merupakan sesuatu yang baru dalam mempelajari sejarah.


Untuk melihat langsung karya-karya sketsa wajah para pelaku masa lalu, Anda bisa mengunjungi langsung laboratorium Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin atau bisa juga mengunjungi situsnya di http://www.laboratoriumsejarah.com/.


HIMAS PUSPITO PUTRA


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X